DetikNews
Rabu 07 Maret 2018, 18:15 WIB

Eks Mata-mata Rusia Kena Zat Misterius, Putrinya Sempat Kritik Putin

Novi Christiastuti - detikNews
Eks Mata-mata Rusia Kena Zat Misterius, Putrinya Sempat Kritik Putin Yulia Skripal, putri mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal (Facebook/Yulia Skripal)
FOKUS BERITA: Inggris - Rusia Tegang
London - Wanita muda yang ditemukan tak sadarkan diri bersama mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal, di Salisbury, Inggris, merupakan putri Skripal. Dugaan mencuat bahwa putri Skripal diracun setelah mengkritik Presiden Rusia Vladimir Putin via Facebook.

Yulia Skripal yang berusia 33 tahun ditemukan tak sadarkan diri bersama ayahnya (66) di sebuah bangku di pusat perbelanjaan di Salisbury, Inggris, pada Minggu (4/3) waktu setempat. Pihak kepolisian menyebut keduanya tak sadarkan diri usai terpapar zat misterius. Polisi masih menyelidiki zat misterius itu.

Kini, Yulia dan ayahnya dalam kondisi kritis dan tengah dirawat secara intensif di rumah sakit setempat. Kecurigaan mencuat bahwa ini merupakan upaya percobaan terhadap ayah Yulia, yang pernah menjadi agen ganda untuk Rusia dan Inggris.


Laporan media-media lokal Inggris, seperti The Evening Standard dan Mirror.co.uk, dilansir pada Rabu (7/3/2018), menyebut Yulia mungkin diracun karena dianggap mengkritik Putin di media sosial, Facebook. Dilaporkan bahwa Yulia sebenarnya hanya memberikan komentar singkat satu kata berbunyi 'nice' pada status Facebook salah satu temannya, yang menyerukan agar Putin dijebloskan ke penjara.

Berbagai laporan yang belum terkonfirmasi menyebut Kremlin atau Istana Kepresidenan Rusia diyakini memantau secara saksama akun media sosial seluruh anggota keluarga Skripal, setelah dia mendapat suaka dan tinggal di Inggris. Spekulasi yang muncul menyebut satu kata dari Yulia pada Facebook itu menjadikannya musuh Rusia.

Pesan yang dikomentari 'nice' oleh Yulia itu berbunyi: "Saya ingin menjebloskan Vladimir Putin ke penjara karena saya pikir dia merupakan presiden terburuk di dunia. Dia mencuri begitu banyak uang yang bisa digunakan untuk memberi makan sebuah negara kecil yang kelaparan."


Kepolisian Metropolitan Inggris atau Scotland Yard telah mengambil alih penyelidikan atas insiden ini dari Kepolisian Wiltshire. Kematian istri Skripal, Liudmila, karena penyakit kanker tahun 2012 dan putra Skripal, Alexander (44), tahun 2017 di St Petersburg juga menjadi pertimbangan dalam penyelidikan.

Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, sebelumnya memperingatkan Rusia bahwa respons tegas akan diberikan jika terbukti negara itu mendalangi insiden ini. Secara terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Mari Zakharova, menyebut komentar Johnson itu terlalu 'liar'.

Perdana Menteri Theresa May telah mendapat penjelasan soal insiden ini dalam rapat dengan Dewan Keamanan Nasional. Para pejabat tinggi Inggris yang dipimpin Menteri Dalam Negeri Amber Rudd akan menggelar rapat darurat soal insiden ini pada Rabu (7/3) waktu setempat.


Skripal ditangkap Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) pada tahun 2004 atas kecurigaan mengkhianati belasan agen intelijen Rusia dan membelot ke intelijen Inggris atau MI6. Dia divonis 13 tahun penjara dalam persidangan rahasia tahun 2006. Pada tahun 2010, Skripal diampuni oleh Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev, sebagai bagian dari pertukaran mata-mata untuk memulangkan 10 agen Rusia yang ditahan Amerika Serikat.

Usai ditukarkan, Skripal mendapat suaka dan tinggal di Inggris. Dia hidup diam-diam di Salisbury dan menjauhi sorotan. Putri Skripal, Yulia, dilaporkan tinggal di Moskow, Rusia selama ini dan sedang mengunjungi ayahnya di Inggris saat insiden ini terjadi.

[Gambas:Video 20detik]


(nvc/ita)
FOKUS BERITA: Inggris - Rusia Tegang
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed