"Kami menghormati resolusi ini yang merupakan keputusan internasional ... dan pemerintah Suriah juga menghormatinya," kata Bagheri seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA dan dilansir AFP, Senin (26/2/2018).
"Namun zona-zona di pinggiran Damaskus yang berada di tangan Al-Nusra dan kelompok-kelompok teroris lainnya tidak tercakup dalam gencatan senjata dan operasi pembersihan serta serangan-serangan oleh militer Suriah akan terus berlanjut," imbuh pejabat tinggi militer Iran itu.
DK PBB pada Sabtu (24/2) waktu setempat mengadopsi resolusi yang menyerukan gencatan senjata 30 hari di Suriah agar pengiriman bantuan dan evakuasi medis bisa dilakukan. Resolusi ini dikeluarkan seiring kecaman negara-negara Barat atas gencarnya serangan-serangan militer Suriah di Ghouta Timur, kawasan di pinggiran Damaskus yang dikuasai pemberontak. Ratusan warga sipil Suriah dilaporkan tewas akibat serangan-serangan rezim selama beberapa hari terakhir itu.
Namun setelah keluarnya resolusi DK PBB tersebut, pertempuran ganas terjadi di daerah-daerah selatan Ghouta Timur pada Minggu (25/2) waktu setempat.
"Kubu Barat dan para pendukung teroris bersikeras untuk menetapkan gencatan senjata namun Rusia dan Iran berusaha membatasi resolusi ini, sehingga kelompok teroris seperti Al-Nusra dikecualikan dan perang bisa dilanjutkan terhadap mereka," tutur Bagheri.
"Wilayah Suriah harus bersih dari kelompok-kelompok teroris dalam beberapa bulan mendatang sehingga warga Suriah bisa hidup dengan damai," tandasnya.
Seperti diketahui, Iran dan Rusia merupakan pendukung rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam memerangi para pemberontak di negara tersebut. (ita/ita)











































