DetikNews
Kamis 22 Februari 2018, 10:09 WIB

Temui Korban Penembakan Brutal, Trump Sarankan Guru Dipersenjatai

Novi Christiastuti - detikNews
Temui Korban Penembakan Brutal, Trump Sarankan Guru Dipersenjatai Donald Trump temui korban penembakan brutal di Gedung Putih (REUTERS/Jonathan Ernst)
Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyarankan untuk mempersenjatai para guru demi menangkal penembakan massal di masa mendatang. Hal ini disampaikan dalam pertemuan dengan para korban yang selamat dari penembakan brutal di sekolah menengah Florida.

Seperti dilansir AFP, Kamis (22/2/2018), dalam pertemuan emosional di Gedung Putih yang disebut 'sesi mendengarkan' itu, Trump duduk dan mendengarkan kisah-kisah para siswa korban selamat, orang tua dan teman-teman korban penembakan brutal di sekolah-sekolah AS.

Trump menjanjikan pemeriksaan latar belakang yang 'sangat ketat' untuk para pemilik senjata api. Dia pun mengusulkan untuk mempersenjatai para guru di sekolah-sekolah AS.

"Zona bebas senjata, untuk seorang maniak -- karena mereka semua pengecut -- sebuah zona bebas senjata berarti 'Mari kita masuk dan mari menyerang'," ucap Trump dalam tanggapannya.

"Jika Anda memiliki seorang guru yang ahli memakai senjata api, mereka bisa dengan sangat baik mengakhiri serangan dengan sangat cepat," imbuhnya, menyarankan bahwa sekitar 20 persen guru sekolah dilatih untuk membawa senjata api. "Ini jelas hanya akan diberlakukan bagi orang-orang yang sangat ahli menggunakan senjata," sebut Trump.


Trump yang mendapat dukungan kuat dari Asosiasi Senapan Nasional (NRA) semasa kampanye pilpres ini, mulai menunjukkan kesediaan untuk mengambil tindakan usai penembakan brutal di sekolah Florida. Pekan ini, dia mendukung langkah melarang 'bump stocks' -- perangkat untuk mengubah senapan semiotomatis sehingga bisa menembak secepat senapan otomatis.



Selain siswa Marjory Stoneman Douglas High School, Florida bersama orangtua mereka, para orangtua korban penembakan sekolah Columbine, Sandy Hook dan penembakan brutal lainnya juga ikut hadir dalam pertemuan dengan Trump ini.

"Saya di sini karena putri saya tidak bisa bersuara. Dia dibunuh pekan lalu dan dia direnggut dari kami, ditembak sembilan kali. Kita sebagai sebuah negara telah gagal melindungi anak-anak. Ini tidak seharusnya terjadi," ucap Andrew Pollack, yang putrinya Meadow (18) tewas dalam penembakan di sekolah Florida pekan lalu.

Pollack mengeluh kepada Trump mengapa prosesnya begitu mudah bagi orang-orang seperti pelaku, Nikolas Cruz (19), membeli senjata api secara legal. Pertemuan yang ditayangkan televisi setempat ini digelar saat unjuk rasa berlangsung di berbagai wilayah AS. Unjuk rasa itu menuntut aturan hukum lebih ketat untuk kepemilikan senjata api.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed