DetikNews
Kamis 08 Februari 2018, 19:17 WIB

Survei: 1 dari 5 Staf Parlemen Inggris Pernah Dilecehkan Seksual

Novi Christiastuti - detikNews
Survei: 1 dari 5 Staf Parlemen Inggris Pernah Dilecehkan Seksual Ilustrasi -- gedung parlemen Inggris (AFP Photo/Daniel Leal-Olivas)
London - Laporan terbaru mengungkapkan satu dari lima orang yang bekerja di Parlemen Inggris pernah menjadi korban atau menyaksikan pelecehan seksual saat bekerja, sepanjang tahun 2017. Laporan ini menyingkap tabir budaya pelecehan seksual di parlemen.

Seperti dilansir AFP dan CNN, Kamis (8/2/2018), survei kelompok lintas partai yang terbuka untuk setiap staf yang bekerja di Westminster atau parlemen Inggris ini, diikuti oleh 1.377 orang. Mereka yang ikut survei ini dirahasiakan identitasnya.

Dari jumlah itu, sebanyak 19 persen atau seperlimanya mengaku pernah mengalami atau menyaksikan pelecehan seksual saat bekerja dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Sebanyak 39 persen lainnya mengaku pernah mengalami pelecehan non-seksual atau bullying.

Angka itu menunjukkan mereka yang mengalami bullying atau pelecehan saat bekerja kebanyakan berjenis kelamin perempuan. Tepatnya 45 persen merupakan perempuan dan 35 persen merupakan laki-laki.

Survei ini dilakukan oleh sekelompok anggota parlemen lintas partai yang fokus pada isu menangkal pelecehan seksual dan bullying di dalam parlemen. Hal ini menindaklanjuti maraknya tudingan pelecehan seksual yang menyeret beberapa anggota parlemen usai terkuaknya skandal Harvey Weinstein, produser ternama Hollywood yang dituding melecehkan banyak aktris.

Laporan survei menyebut bullying dan pelecehan 'telah masuk dalam kehidupan orang-orang yang bekerja di atau dengan parlemen'.

Melalui hasil survei ini, diharapkan ada langkah perlindungan dan dukungan lebih baik bagi staf maupun anggota parlemen yang menjadi korban. Diharapkan juga akan ada kode perilaku baru dan pembentukan prosedur pengaduan yang independen dan rahasia. Rekomendasi yang muncul menindaklanjuti laporan ini adalah memperluas dan mereformasi peran komisioner penegakan standar parlemen dan komisi terkait lainnya.

[Gambas:Video 20detik]


Diserukan juga adanya sanksi lebih luas bagi para pelaku, mulai dari permohonan maaf tertulis, mengikuti pelatihan wajib, kesepakatan memperbaiki perilaku di masa mendatang, penonaktifan atau penarikan anggota parlemen. Hal ini akan dibahas oleh parlemen mulai akhir Februari ini.

"Ini menjadi hari besar bagi parlemen dan dunia politik kita," sebut anggota parlemen Inggris, Andrea Leadsom, yang memimpin House of Commons dan panel kelompok lintas partai ini.

"Prosedur independen yang baru akan menunjukkan bahwa kita menginginkan parlemen terbaik di dunia ketika menyangkut soal memperlakukan setiap orang yang bekerja di sini dengan penuh hormat dan martabat," imbuhnya. "Ini merupakan langkah besar dalam membawa perubahan budaya yang dibutuhkan parlemen," ucap Leadsom.

[Gambas:Video 20detik]


(nvc/nkn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed