DetikNews
Selasa 23 Januari 2018, 19:32 WIB

Kobaran Api dan Suara Tembakan Terdengar dari Desa Rakhine

Novi Christiastuti - detikNews
Kobaran Api dan Suara Tembakan Terdengar dari Desa Rakhine Kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh (REUTERS/Danish Siddiqui)
Dhaka - Otoritas Bangladesh melaporkan penampakan kobaran api dari sebuah desa di wilayah Rakhine, Myanmar yang dilanda konflik. Suara tembakan juga dilaporkan terdengar dari desa yang sebelumnya ditinggali para etnis muslim Rohingya yang kebanyakan telah mengungsi ke Bangladesh.

Laporan soal kobaran api dan suara tembakan ini diungkapkan setelah otoritas Bangladesh dan Myanmar menyepakati pemulangan ratusan ribu pengungsi Rohingya yang akan dimulai dalam waktu dekat. Dituturkan seorang penjaga perbatasan senior Bangladesh kepada AFP, Selasa (23/1/2018), bahwa 'kobaran api besar' itu terlihat di sebuah desa Rakhine yang ditinggalkan warganya pada Senin (22/1) tengah malam.


Menurut penjaga perbatasan yang enggan disebut namanya ini, kobaran api terlihat dari pos pemantauan perbatasan di Tombru, Cox's Bazar, Bangladesh, dekat perbatasan Myanmar. Penjaga perbatasan Bangladesh meyakini kobaran api itu membakar rumah-rumah di desa yang sebelumnya ditinggali Rohingya. Disebutkan penjaga perbatasan Bangladesh ini bahwa wilayah yang dilanda kebakaran itu kini dikuasai oleh tentara Myanmar.

Dalam pernyataan terpisah, seorang penjaga perbatasan Bangladesh lainnya menuturkan kepada AFP bahwa suara tembakan terdengar beberapa kali sebelum kobaran api terlihat dari wilayah Bangladesh, dekat perbatasan Myanmar. Sulit untuk memverifikasi secara independen keterangan-keterangan otoritas Bangladesh ini karena Myanmar sangat membatasi akses ke Rakhine.

Keterangan senada disampaikan oleh seorang pengungsi Rohingya yang kini tinggal di dekat perbatasan Bangladesh-Myanmar. Abul Naser (42) mengaku dirinya melihat sendiri 'kobaran api dan kepulan asap' dari wilayah Myanmar. "Mereka berusaha mengirimkan pesan kepada kami, mereka berusaha menakut-nakuti kami agar kami tidak kembali," ucap Naser kepada AFP, merujuk pada militer Myanmar.


Rekaman video yang menunjukkan kobaran api di wilayah Myanmar dekat perbatasan Bangladesh itu beredar dengan cepat di kalangan pengungsi Rohingya yang ada di Cox's Bazar. Kebanyakan pengungsi Rohingya menyalahkan tentara Myanmar sebagai dalang di balik kobaran api itu.

"Kebakaran itu dirancang untuk menghancurkan jejak-jejak terakhir rumah-rumah Rohingya agar tidak ada satupun dari kami yang bisa kembali ke desa kami," sebut seorang aktivis Rohingya, Rafique bin Habib, kepada AFP.

Berdasarkan kesepakatan yang tercapai antara Myanmar dan Bangladesh pekan lalu, ada sekitar 750 ribu pengungsi Rohingya yang akan dipulangkan ke Myanmar. Proses pemulangan disepakati akan memakan waktu selama 2 tahun dan awalnya akan dimulai Selasa (23/1) ini. Namun pada pelaksanaannya, otoritas Bangladesh menundanya dengan alasan butuh waktu lebih banyak untuk persiapan pemulangan.


Namun kebanyakan pengungsi Rohingya di Bangladesh menolaknya. Beberapa hari terakhir, ratusan pengungsi Rohingya di kamp Bangladesh menggelar unjuk rasa memprotes rencana pemulangan. Mereka meminta agar status kewarganegaraan dan jaminan keamanan diberikan otoritas Myanmar kepada Rohingya yang kembali ke Rakhine. Banyak pengungsi Rohingya yang khawatir akan disandera dan disiksa jika kembali ke Myanmar.


(nvc/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed