Pada 23 Juli 2017 lalu, seorang petugas keamanan di Kedutaan Besar Israel menembak mati seorang pekerja berkebangsaan Yordania yang datang ke sebuah apartemen untuk memasang furnitur. Korban juga ditusuk dengan sebuah obeng di bagian punggungnya. Seorang warga Yordania lainnya, pemilik apartemen, juga tewas -- kemungkinan karena ketidaksengajaan.
Juru bicara pemerintah Yordania, Mohammed Momani mengatakan seperti dilansir kantor berita resmi Petra dan dilansir AFP, Jumat (19/1/2018), pemerintah telah menerima memo resmi dari Kementerian Luar Negeri Israel yang menyampaikan kesedihan dan penyesalan mendalam pemerintah Israel atas insiden kedutaan Israel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Kamis (18/1) waktu setempat, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan bahwa
Israel "sangat mementingkan hubungan strategisnya dengan Yordania dan kedua negara akan bertindak untuk memajukan kerja sama antara mereka dan untuk memperkuat perjanjian perdamaian 1994 antara mereka."
Dalam statemen itu tidak disebutkan mengenai mengenai permintaan maaf ataupun kompensasi.
Saat kejadian, petugas keamanan Kedutaan Israel sempat ditanyai secara singkat oleh kepolisian di Yordania. Namun dia kemudian diizinkan kembali ke Israel beserta seluruh staf Kedutaan, atas dasar dia memiliki kekebalan diplomatik. Dia mendapatkan sambutan bak pahlawan dari Netanyahu, hingga memicu kemarahan luas di Yordania.
Pemerintah Yordania kemudian menyatakan, pihaknya tak akan mengizinkan para staf Kedutaan Israel kembali ke Amman, hingga Israel melakukan penyelidikan serius dan meminta maaf atas insiden tersebut.
Momani mengatakan, memo Israel ini telah memenuhi semua syarat yang ditetapkan pemerintah untuk kembalinya Duta Besar Israel ke Amman. "Pemerintah telah menghubungi keluarga ketiga martir yang setuju untuk menerima permintaan maaf dan kompensasi," tandas Momani.
(ita/ita)











































