Seperti dilansir AFP, Jumat (5/1/2018), pesan singkat dan peringatan gempa telah dikirimkan ke telepon genggam jutaan warga di dan sekitar Tokyo.
"Sebuah gempa telah terjadi di Ibaraki. Bersiap untuk sentakan kuat," demikian bunyi peringatan yang dikirimkan oleh Badan Meteorologi Jepang (JMA) pada Jumat (5/1) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Layanan kereta api biasa dan kereta bawah tanah di Tokyo dihentikan sementara. Sedangkan sejumlah lift, termasuk yang ada di menara observasi dan komunikasi Tokyo Tower, juga berhenti beroperasi. Namun getaran gempa yang dirasakan warga tergolong sedang. Tidak ada laporan kerusakan maupun korban luka akibat kedua gempa itu.
Otoritas Jepang mencurigai peringatan gempa besar itu sebenarnya dipicu dua gempa berkekuatan kecil yang mengguncang Jepang pada waktu yang nyaris bersamaan.
Gempa pertama berkekuatan 4,4 Skala Richter (SR) mengguncang lepas pantai Ibaraki, sebelah timur laut Tokyo, pukul 11.02 waktu setempat. Pada waktu yang nyaris bersamaan, gempa 3,9 SR mengguncang Prefektur Toyama, yang berjarak 350 kilometer sebelah barat dari lokasi gempa di Ibaraki.
"Kami mencurigai bahwa sistem menaksir terlalu tinggi, dengan menghitung dua gempa terpisah sebagai satu gempa besar," sebut pejabat Jepang yang enggan disebut namanya. Pihak JMA masih menyelidiki penyebab terjadinya ketidakakuratan ini.
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe juga menjadi 'korban' dari peringatan gempa yang tidak akurat ini. Tayangan televisi setempat menunjukkan PM Abe sedang memeriksa telepon genggamnya saat alarm gempa berbunyi di kantornya menjelang rapat kabinet.
(nvc/dhn)











































