DetikNews
Rabu 03 Januari 2018, 11:41 WIB

Puji Demonstran Iran, Trump Sebut Rezim Teheran Brutal dan Korup

Novi Christiastuti - detikNews
Puji Demonstran Iran, Trump Sebut Rezim Teheran Brutal dan Korup Donald Trump (REUTERS/Jonathan Ernst)
Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sangat vokal terhadap unjuk rasa antipemerintah yang tengah berlangsung di Iran. Dalam komentar terbaru, Trump memuji para demonstran Iran yang disebutnya berani melawan rezim yang brutal dan korup.

"Rakyat Iran akhirnya bertindak melawan rezim Iran yang brutal dan korup," ucap Trump dalam komentar terbarunya via Twitter, seperti dilansir AFP, Rabu (3/1/2018). Komentar ini disampaikan sehari setelah Trump menyerukan perubahan rezim di Iran.

"Semua uang yang diberikan secara tolol oleh Presiden (Barack) Obama kepada mereka (Iran-red) mengalir ke terorisme dan mengalir ke 'kantong-kantong' mereka. Rakyat hanya mendapat sedikit makanan, inflasi melonjak dan tidak ada hak asasi manusia. AS mengawasi!" tegasnya.

Komentar Trump itu merujuk pada kesepakatan nuklir yang tercapai antara Iran dengan enam kekuatan dunia, termasuk AS, pada tahun 2015 saat era pemerintahan Obama. Selain AS, lima negara lain yang terlibat kesepakatan dengan Iran adalah Inggris, China, Prancis, Jerman dan Rusia. Trump selama ini selalu mengkritik kesepakatan nuklir itu sebagai kesepakatan yang sangat buruk.


Beberapa hari terakhir, Trump terus mengomentari unjuk rasa besar-besaran di Iran. Dia kembali melontarkan komentar terbaru dan mengabaikan peringatan yang menyebut intervensinya ini akan berbalik menyerangnya.

Vokalnya Trump soal Iran disinyalir dipicu oleh sikap Obama yang bertolak belakang saat unjuk rasa besar-besaran memprotes hasil pilpres melanda Iran tahun 2009 lalu. Selama masa kepemimpinannya, Trump selalu mengambil kebijakan dan sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya itu.

Sejauh ini, total 21 orang dilaporkan tewas dalam kerusuhan yang dipicu unjuk rasa antipemerintah di berbagai kota Iran sejak Kamis (28/12) pekan lalu. Sedangkan 450 orang lainnya dilaporkan ditangkap di Teheran dalam beberapa hari terakhir. Unjuk rasa ini awalnya dipicu oleh aksi memprotes perekonomian Iran yang memburuk, namun kemudian bergeser menjadi seruan lengsernya rezim pemerintah Iran secara keseluruhan.


Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam pernyataannya mengomentari unjuk rasa di negaranya menyalahkan musuh-musuh Iran sebagai dalang utama. Khamenei tidak menyebut langsung siapa yang dimaksud musuh Iran tersebut. Namun Wakil Dewan Tertinggi Keamanan Nasional, Ali Shamkhani, menyebut AS, Inggris dan Arab Saudi sebagai pihak-pihak di balik kerusuhan di Iran.

Gedung Putih AS menolak opini bahwa intervensi Trump akan memicu tudingan keterlibatan asing di balik unjuk rasa Iran. "Presiden Trump tidak akan duduk diam seperti Presiden Obama. Dan dia tentu mendukung rakyat Iran dan ingin memperjelasnya," tegas juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders.


(nvc/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed