Orang Kiri Membela Palestina di Jantung Yahudi

Orang Kiri Membela Palestina di Jantung Yahudi

Aryo Bhawono - detikNews
Kamis, 28 Des 2017 07:25 WIB
Orang Kiri Membela Palestina di Jantung Yahudi
Hadash (koalisi sayap kiri Israel berpawai jelang hari HAM se Dunia di Tel Aviv (Foto: Getty Images)
Jakarta - Cemoohan menyambut Anggota Zionist Union, Yossi Yonah, ketika memasuki arena debat Limmud FSU (lembaga pendanaan untuk remaja Yahudi di negara bekas Uni Soviet ) di kota Oakland, Amerika Serikat 21 November lalu. Ia mewakili partainya yang berhaluan moderat kiri di depan 200-an orang Yahudi. Ide yang dibawanya adalah solusi dua negara, Israel-Palestina.

Reaksi pengunjung berbalik ketika juru bicara Komunitas Hebron, Rabbi Yishai Fleisher, berdiri memperkenalkan diri. Decak kagum dan tepuk tangan menggema. Fleisher dikenal sebagai orang yang berpegang teguh dengan negara tunggal di atas seluruh Palestina, Israel.

Jerusalem Post mencatat awal perjalanan debat berjalan dengan tenang. Yonah dan Fleisher mendapat waktu lima menit untuk menerangkan pandangannya mengenai masa depan Israel. Yonah menekankan solusi dua negara adalah satu-satunya solusi untuk memecah konflik Timur Tengah.

"Tak dapat dipungkiri, orang Palestina adalah warga pendudukan. Jika anda tawarkan apakah mereka mau menjadi warga Israel, mayoritas akan bilang tidak," ucap Yonah.

Cemooh dan ejekan menggema di ruangan menanggapinya. Pendapatnya ini tak disukai keturunan Yahudi asal negara-negara bekas Soviet yang memenuhi ruangan.

Fleisher-pun membalas pendapat Yonah. Solusi dua negara berulangkali dibicarakan, hasilnya nihil. Rumusan tanah untuk perdamaian bermasalah pada intinya, kata Fleisher, untuk alasan kemanan, sejarah, hukum, dan agama.

Sorak sorai bergema menyambut pendapat Fleisher. Sebaliknya jawaban Yonah berangsur tenggelam oleh cemoohan yang diteriakkan. Namun ia tak kendur, suaranya sesekali terdengar lantang di tengah keriuhan cemooh.

Yonah adalah satu dari orang kiri yang mendukung pendirian negara Palestina. Kelompoknya sangat konsisten melawan gerakan pendukung negara tunggal penguasa tanah Palestina, Israel.

Pasca pengumuman Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, mereka-pun memperkuat protes. Situs Partai Komunis Israel (Hadash/ The Democratic for Peace and Equility), maki.org, menulis demonstrasi di Israel digelar oleh Hadash, salah satu partai gabungan komunis Israel di utara Kota Sakhnin pada 15 Desember lalu.


Demonstrasi ini diikuti oleh mantan anggota Hadash, Mohammed Barakeh. Mereka menuntut pencabutan kebijakan Presiden Trump soal Yerusalem. Spanduk besar bertuliskan "Jerusalem and al-Aksa are red line" dibentang oleh demonstran sepanjang jalan.

Raja Za'atry, juru bicara aksi, menyebutkan takkan ada perdamaian tanpa menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina. "Kami takkan menyerah pada pemerintahan garis kanan," kata dia.

Hadash juga mendukung resolusi PBB menolak pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel. Anggota Hadash, Ayman Odeh, mengungkap dunia Internasional telah mempertimbangkan Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina. Seluruh lawatan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggalang dukungan gagal.

"Dunia Internasional mengakui Palestina sebagai sebuah negara layak mendapatkan wilayah dan kedaulatan," tandasnya.

Protes pasca keputusan Presiden Trump tak hanya kali ini saja oleh kalangan kiri Israel dan Palestina. Pada 6 Desember 2017, Maki dan Palestinian People Party (PPP) yang berhaluan kiri juga menggelar komitmen bersama untuk menentang keputusan Presiden Trump dan represi tentara AS. Orang kiri Yahudi hanya menjadi suara sumbang di Israel, namun mereka tetap membela Palestina. (ayo/jat)




Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads