Michellin Awwad, Gadis Poster Perlawanan Perempuan Palestina

ADVERTISEMENT

Michellin Awwad, Gadis Poster Perlawanan Perempuan Palestina

Aryo Bhawono - detikNews
Jumat, 22 Des 2017 18:10 WIB
Foto: Abed Al Hashlamoun - EPA
Jakarta -

Sebuah poster menampilkan sesosok perempuan muda berpakaian hitam dan syal kuning. Tangan kiri perempuan itu menenteng sepatu berhak sewarna dengan syalnya. Sementara tangan kanannya tengah menggengam sebongkah batu untuk dilemparkan ke kerumunan tentara Israel.

Foto dalam poster itu bukan lukisan, tapi nyata. Dia adalah Michellin Awwad yang kini sudah berusia 68 tahun. Bersama dua anaknya dia tinggal di kawasan Tepi Barat, Palestina.

Zaman selalu bergejolak sepanjang masa hidupnya. Ketika banyak kaum muda turun ke jalan-jalan melemparkan batu, menentang tentara Israel, Michellin adalah salah satunya. Intifadah nama gerakan yang berlangsung pada era 1980-an tersebut.

"Hari itu ada acara khusus di gereja, jika tidak saya takkan memakai pakaian itu untuk ikut demonstrasi. Kami di gereja tidak mengira akan ada demonstrasi," ungkap Michellin kepada BBC tentang poster tersebut.

Aksi Michellin Awwad dalam posterAksi Michellin Awwad dalam poster Foto: Dok. Pribadi

Peristiwa itu terjadi sekitar 1987 di Beit Sahour, sebuah desa di kawasan Tepi Barat. Michellin bergabung dengan pemuda yang tumpah di jalan menghadapi tentara Israel bersenjata lengkap. Foto Michellin sering ditampilkan sebagai simbol perlawanan perempuan Palestina atas pendudukan Israel. Namun identitas Michellin tak terdeteksi sampai lebih dari 30 tahun, hingga BBC menemuinya 20 Desember lalu.

"Saya menunduk dan memungut batu. Saya tahu ada orang-orang yang memotret . Demonstrasi itu adalah panggilan hati nurani. Pemuda dan perempuan turun ke jalan," kenangnya.

Keterlibatan Michellin itu terjadi di tengah masa intifada pertama, 1983 - 1993. Konflik itu meninggalkan korban jiwa sebanyak 1.400-an di pihak Palestina dan 271 jiwa pihak Israel. Perlawanan intifada kedua meletus pada 2000. Sebanyak 3.392 warga Palestina meninggal, dan 992 pihak Israel tewas.

Sosiolog Joos L Hiltermann dalam makalahnya, Gerakan Perempuan di Masa Perlawanan, di Journal of Palestine Studies menyebutkan keterlibatan perempuan Palestina di masa perlawanan terjadi sejak era 1970-an. Mereka turut dalam barisan demonstrasi, melempar batu ke tentara Israel, hingga adu mulut dengan pasukan Israel yang menangkap demonstran lain.

"Intifadah tak hanya mengguncang militer, tetapi juga revolusi generasi muda melawan tua, aktivis jalanan melawan otoritas politik, dan perempuan melawan posisi tradisional mereka dalam masyarakat patriarkal," tulis Hiltermann

Pada perkembangannya, gerakan perempuan berkembang hingga memecah Komite Kerja Perempuan yang ada menjadi empat kelompok dipengaruhi politik seperti loyalis Fatah, kalangan Komunis, dan kalangan populis. Gerakan perlawanan perempuan pun kian berkembang. Kesejahteraan dan perlindungan menjadi salah satu tuntutan mereka.


Kini Palestina kembali bergejolak karena keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Panggilan Intifadah ketiga-pun kembali bergema. Pemimpin kelompok Hamas, Ismail Haniyeh, meminta rakyat Palestina turun ke jalan untuk melakukan intifadah baru.

Meski sudah sepuh, semangat Awwad masih bergejolak menyimak seruan intifadah tersebut. Namun ia kini mulai mengkhawatirkan keselamatan dua anaknya.

"Saya memiliki dua anak. Jika salah satu dari mereka terluka dan meninggal, perasaan saya akan hancur seumur hidup. Biarkan anak saya di rumah, saya yang akan keluar," tegasnya.



(ayo/jat)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT