DetikNews
Jumat 15 Desember 2017, 14:06 WIB

Intip Prospek Bisnis di Rawabi, Metropolitan Pertama Palestina

Erwin Dariyanto - detikNews
Intip Prospek Bisnis di Rawabi, Metropolitan Pertama Palestina Foto: Dokumentasi Rawabi
Jakarta - Kota Rawabi kini bak putri jelita. Hampir semua mata pengusaha Arab, Amerika, dan Eropa tertuju di kota seluas 6.475 Kilo meter persegi dan berjarak 25 kilo meter utara Yerusalem itu. Khususnya para social entrepreneurs yang tengah melihat potensi pembangunan dan peluang ekonomi di Palestina.

Pada pekan pertama April 2017, misalnya, 50 peserta "Konferensi Tingkat Tinggi Forbes 30 under 30" melakukan perjalanan dari Yerusalem menuju Rawabi. Mereka ingin melihat langsung Kota Rawabi yang menjadi impian besar dan prestasi luar biasa anak negeri Palestina, Bashar Masri.

Melalui anak perusahaan Massar International Bayti Real Estate Investment Company, Masri mengembangkan megaproyek Rawabi. Pengerjaan konstruksi dikerjakan mulai 2010, kini wujud fisik Rawabi sudah mulai kelihatan.

Intip Prospek Bisnis di Rawabi, Metropolitan Pertama PalestinaFoto: Dokumentasi Rawabi


Rawabi menjadi kota dengan banyak gedung bertingkat tinggi yang futurristik. Kota ini dilengkapi fasilitas berteknologi tinggi yang ramah lingkungan. Selain itu karena posisinya yang di puncak bukit, Kota Rawabi menyajikan pemandangan yang eksotis, mulai dari ngarai yang curam, sunset, dan langit biru yang mempesona.

Lalu bagaimana dengan peluang bisnis di sana?

Baca juga: Ini Rawabi, Metropolitan Pertama di Palestina

Pendiri Kota Rawabi, Bashar Masri memaparkan langsung kepada 50 peserta KTT Forbes 30 under 30 yang datang pada pekan pertama April lalu. Pertemuan itu sengaja digelar di arena amphiteater Rawabi. Arena dengan 15.000 tempat duduk ini menjadi yang terbesar di Timur Tengah.

"Kami ingin menghasilkan uang," kata Masri mengawali sambutan seperti dikutip dari Forbes.com, Jumat (15/12/2017).

"Tapi yang lebih penting, kami ingin membuat lingkungan dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat kita. Kami ingin menginspirasi orang muda dan memberi mereka kesempatan," tambah Masri, pria kelahiran Nablus, Palestina 1961 itu.

Sir Ronald Cohen dari The Portland Trust optimistis Rawabi akan menjadi pusat bisnis yang berkembang pesat. Meski pun ruang untuk toko lebih sedikit ketimbang fasilitas lainnya. "Jika Anda berpikir besar, Anda akan meraih lebih dari yang Anda inginkan. Rawabi adalah tentang keuntungan dengan tujuan: memberikan kebaikan keuangan dan sosial yang terukur yang dapat dijawab," kata dia dalam kesempatan dan tempat yang sama.

Setelah Masri dan Cohen berpidato, enam pengusaha muda Palestina mempresentasikan model bisnis mereka. Keenam pengusaha muda Palestina itu antara lain Dr. Adnan Copty, salah satu pendiri NIMD, sebuah startup perawatan kanker menggunakan radiasi gelombang mikro yang kantornya berbasis di Yerusalem.

Peter Abualzolof, salah seorang pendiri Mashvisor, sebuah startup teknologi real estate di Ramallah. Mashvisor adalah perusahaan Palestina pertama yang terpilih untuk berpartisipasi dalam 500 Startups. Ada juga Nancy Morrar dari The Siraj Fund, yang berinvestasi di perusahaan teknologi tinggi Palestina.

Tiga pendiri European Under 30 juga hadir ke Rawabi saat itu. Mereka adalah Carla Brown dari Game Dr. (Inggris), Alise Semjonova dari Infogram (Latvia) dan Mariano Kostelec dari Uniplaces (Portugal).

Di kesempatan lain, Masri mengatakan bahwa pihaknya tengah membujuk Microsoft, Google, dan Apple untuk mempekerjakan programmer Palestina di kota tersebut, namun mereka belum berkomitmen. Namun dia memastikan ada satu perusahaan teknologi Israel yang akan membuka kantor di Rawabi.

Intip Prospek Bisnis di Rawabi, Metropolitan Pertama PalestinaBashar Masri (Foto: Photo by Uriel Sinai/Getty Images)


Nasdaq yang diperdagangkan Mellanox Technologies Ltd, pembuat peralatan data berkecepatan tinggi dan mempekerjakan hampir 100 pemrogram Palestina juga berencana memindahkan sebagian besar kegiatan mereka ke Rawabi pada musim semi ini. Masri juga terus membujuk perusahaan besar lainnya di dunia untuk datang ke Rawabi.

Seorang konsultan bisnis yang berbasis di Ramallah, Sam Bahour mengatakan komitmen sejumlah investor di Rawabi bisa goyah ketika Masri meminta lebih banyak dana lagi. Apalagi hingga saat ini belum ada solusi konflik antara Palestina dengan Israel.

Qatari Diar Real Estate Investment Co. misalnya, saat ini menjadi partner dari Bayti Real Estate Investment Company. Bahour mengibaratkan saat ini Qatari Diar masih membri tali yang panjang di Rawabi. Namun bisa saja tali itu dia tarik kembali.

"Tali yang lebih panjang daripada kebanyakan dari kita, tali masih ada di sana, dan saat ditarik ia (Rawabi) merasakannya," kata Sam Bahour seperti dilansir dari Bloomberg.

Ada pun CEO Mellanox, Eyal Waldman mengatakan selama perusahaannya membuka kantor di Tepi Barat sudah terjadi tiga kali kerusuhan antara warga Palestina dengan Tentara Israel. Namun mereka tetap bekerja dalam satu tim.

"Kami melewati tiga perang kecil saat kami mempekerjakan orang-orang di Tepi Barat, dan kami terus bekerja sebagai satu tim," kata Eyal Waldman. "Kami berharap bisa terus berkembang," lanjutnya.

Lalu, bagaimana dengan para miliarder Indonesia. Adakah di antara Anda yang tertarik untuk berbisnis di bumi Palestina sana?
(erd/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed