DetikNews
Kamis 07 Desember 2017, 11:55 WIB

Protes Trump Soal Yerusalem, Ribuan Warga Turki Turun ke Jalan-jalan

Rita Uli Hutapea - detikNews
Protes Trump Soal Yerusalem, Ribuan Warga Turki Turun ke Jalan-jalan aksi demo warga Turki menentang pengumuman Trump soal Yerusalem (Foto: Anadolu Agency)
Ankara - Ribuan warga Turki turun ke jalan-jalan untuk memprotes keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Kelompok-kelompok masyarakat sipil dan sejumlah NGO ikut serta dalam aksi protes tersebut.

Aksi demo juga terjadi di luar Kedutaan Besar AS di Ankara dan konsulat AS di Istanbul. Aksi-aksi demo tersebut berlangsung damai. Dalam aksi demo di luar konsulat AS di Istanbul, para demonstran membakar bendera-bendera Israel. Para demonstran juga menulis kata-kata 'Bebaskan Palestina' di tembok gedung konsulat AS di tembok gedung konsulat.

Seperti diberitakan kantor berita Turki, Anadolu Agency, Kamis (7/12/2017), aksi protes serupa juga berlangsung di hampir semua provinsi Turki, termasuk Konya, Bursa, Antalya, Mugla, Manisa, Adana, Bartin, Karabuk, Samsun, Yozgat, Malatya, Gaziantep, Kahramanmaras, Sanliurfa, Sirnak dan Diyarbakir.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menyerukan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul pada 13 Desember akan membahas isu tersebut.

"Dalam menghadapi perkembangan yang membangkitkan sensitivitas mengenai status Yerusalem, Presiden menyerukan pertemuan puncak para pemimpin Organisasi Kerja Sama Islam untuk menunjukkan aksi bersama negara-negara Islam," ujar juru bicara kepresidenan Ibrahim Kalin kepada para wartawan di Ankara, Rabu (6/12/2017).

Dia mengatakan bahwa pertemuan puncak akan berlangsung pada 13 Desember 2017. Untuk diketahui, Turki saat ini menjabat sebagai Ketua OKI. Kalin menegaskan, pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel akan menjadi kesalahan besar terhadap kesepakatan-kesepakatan internasional.

Sementara Wakil Perdana Menteri Turki Bekir Bozdag menuturkan, langkah AS tersebut berisiko menimbulkan "api" di Timur Tengah dan akan mengakibatkan sebuah "bencana besar."

Pengakuan tersebut akan "melemparkan Timur Tengah dan dunia ke dalam api dan tidak diketahui kapan itu akan berakhir," tutur Bozdag, yang juga menjadi juru bicara pemerintah Turki melalui Twitter. Dia mengatakan langkah itu akan menghancurkan proses perdamaian.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed