Kisah Munira Kehilangan 22 Anggota Keluarga Dibantai Ratko Mladic

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 23 Nov 2017 17:59 WIB
para korban kejahatan Mladic (Foto: Getty Images)
Den Haag - Bagi kebanyakan orang, tanggal 12 Juli 1995 hanyalah hari biasa di masa lalu. Namun bagi Munira Subasic, hari itu menjadi hari paling mengerikan yang akan terus terukir dalam ingatannya. Di hari itulah, dia melihat Jenderal Ratko Mladic, pembantai ribuan muslim Bosnia, dan terakhir kalinya dia melihat putranya hidup.

"Saya berada di Srebrenica pada Juli 1995 ketika Mladic datang, pada 12 Juli. Dan dia bilang bahwa kami semua akan aman. Sebelum dia datang, semua keluarga saya masih hidup. Setelah dia datang, mereka semua tiada," tutur wanita itu seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (23/11/2017).

Subasic kehilangan 22 anggota keluarga dekatnya saat pasukan Serbia Bosnia yang dipimpin Mladic melakukan pembantaian lebih dari 7 ribu muslim Bosnia di Srebrenica pada 1995. Mereka yang tewas termasuk suami Subasic, Hilmo dan putranya, Nermin yang baru berumur 16 tahun.

Mladic divonis penjara seumur hidup oleh Mahkamah Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia, di Den Haag, Belanda pada Rabu (22/11) waktu setempat. Mahkamah menyatakan Mladic bersalah melakukan genosida terhadap lebih dari 7 ribu muslim di Srebenica.

Mahkamah juga menyatakan bahwa Jenderal Mladic bertanggung jawab karena secara langsung memerintahkan pengeboman terhadap kota Sarajevo. Jenderal yang dijuluki sebagai "Si Jagal Bosnia" itu divonis penjara seumur hidup, dalam kasus yang digambarkan hakim sebagai salah satu kejahatan paling biadab dalam sejarah umat manusia.

Dengan air mata yang mengalir di pipinya, Subasic menceritakan bagaimana dirinya terakhir kali melihat putranya di kamp pasukan perdamaian PBB asal Belanda, Potocari, tempat ribuan muslim Bosnia berlindung saat pasukan Serbia Bosnia menginvasi. Pasukan Mladic menguasai kamp tersebut dan mulai memisahkan kaum pria dan anak laki-laki dari kaum wanita dan anak-anak perempuan.

"Saya memohon Mladic untuk mengampuni nyawa dia (putra Subasic)," ujar Subasic yang kini berumur 70 tahun. "Mereka membawa dia pergi dari kamp. Putra saya menyuruh saya untuk tidak khawatir, bahwa kami akan bertemu kembali. Tapi itu tak pernah terjadi," imbuhnya dengan suara bergetar.

Subasic adalah ketua gerakan kaum ibu Srebrenica, Movement of Mothers of Srebrenica and Zepa Enclaves, yang berkampanye untuk menceritakan apa yang terjadi di Srebrenica pada tahun 1995 tersebut dan menyeret para pelakunya ke pengadilan. "Kami adalah saksi hidup," katanya seraya menegaskan bahwa kebenaran harus diungkapkan agar seluruh dunia tahu.

Srebenica adalah wilayah yang didiami muslim Bosnia, sekitar 80 km di utara Sarajevo, dan sebenarnya memiliki status daerah perlindungan PBB. Pada 1995, tentara Mladic memasuki kota ini dan menangkap remaja dan ribuan laki-laki Muslim berusia antara 12 hingga 77 tahun.

Dalam kurun lima hari, di satu lapangan di luar kota, lebih dari 7.000 Muslim Bosnia dieksekusi, dilaporkan dengan menggunakan senapan mesin, sebelum dibuang dengan menggunakan buldoser di kuburan-kuburan massal. (ita/ita)