DetikNews
Selasa 21 November 2017, 18:26 WIB

China Desak Thailand Segera Temukan Tahanan Uighur yang Kabur

Novi Christiastuti - detikNews
China Desak Thailand Segera Temukan Tahanan Uighur yang Kabur Ilustrasi (Thinkstock)
Beijing - Otoritas China mendesak Thailand untuk segera mencari belasan tahanan Uighur yang kabur dari rumah tahanan setempat. Para tahanan itu kabur dengan membuat lubang di dinding dan menggunakan sejumlah selimut sebagai tangga untuk keluar dari lubang itu.

Awalnya dilaporkan 25 tahanan Uighur kabur dari rumah tahanan imigrasi di Provinsi Songkhla, Thailand, dekat perbatasan Malaysia, pada Senin (20/11) waktu setempat. Mereka membuat lubang pada dinding sel tahanan dengan pecahan ubin yang rusak.

Beberapa saat setelah para tahanan kabur, lima orang di antaranya berhasil ditangkap kembali. Kemudian pada Selasa (21/11) waktu setempat, sebanyak lima orang lainnya berhasil ditangkap.

Disampaikan Kepolisian Thailand, seperti dilansir Reuters, Selasa (21/11/2017), sejauh ini ada 15 tahanan yang masih diburu. Sebagai bagian dari perburuan ini, otoritas setempat mendirikan pos-pos pemeriksaan di sepanjang perbatasan Thailand dengan Malaysia.


Para tahanan yang kabur ini merupakan kelompok terakhir dari 200 warga Uighur yang ditahan sejak tahun 2014 karena pelanggaran imigrasi. Mereka yang ditahan meminta untuk dikirimkan ke Turki, namun lebih dari 100 orang di antaranya telah dipulangkan paksa ke China pada Juli 2015.

Langkah otoritas Thailand itu memicu kecaman internasional, terutama dari kalangan aktivis HAM yang mengkhawatirkan warga Uighur yang dipulangkan ke China akan mengalami penyiksaan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang, menyatakan otoritas China terus memantau situasi terkait insiden kaburnya tahanan Uighur itu. Lu juga menyatakan, China akan terus memperkuat kerja sama dengan Thailand dalam perburuan tahanan yang kabur ini.

"China telah mendorong departemen Thailand yang terkait untuk segera membawa orang-orang ini ke pengadilan," tegas Lu dalam konferensi pers di Beijing.

Diketahui ratusan orang tewas dalam konflik sektarian antara warga mayoritas Han dengan warga minoritas Uighur di Xinjiang, China. Selama bertahun-tahun, ratusan hingga ribuan warga Uighur melarikan diri dari Xinjiang dengan melakukan perjalanan diam-diam ke Turki, via negara-negara Asia Tenggara.

Pemerintah China menyalahkan kelompok separatis atas konflik yang terjadi di Xinjiang. Padahal berbagai kelompok pemantau HAM dan warga Uighur yang hidup dalam pengasingan menyebut pengekangan dan penindasan oleh otoritas China terhadap agama dan kebudayaan Uighur sebagai penyebab pecahnya konflik.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed