DetikNews
Selasa 21 November 2017, 10:27 WIB

Pertama, Asteroid dari Luar Tata Surya Terpantau Teleskop Bumi

Novi Christiastuti - detikNews
Pertama, Asteroid dari Luar Tata Surya Terpantau Teleskop Bumi Ilustrasi 'Oumuamua (European Southern Observatory/ESP/M Kornmesser)
Honolulu - Untuk pertama kalinya, sebuah asteroid antarbintang mampu dipantau oleh teleskop Bumi saat berada di dalam Tata Surya kita. Asteroid panjang berbentuk mirip cerutu ini, belum pernah dilihat sebelumnya oleh para pakar astronomi.

Seperti dilansir CNN, Selasa (21/11/2017) pada 19 Oktober lalu, teleskop Pan-STARRS 1 di Hawaii mendeteksi objek aneh berada di sistem Tata Surya kita. Terungkap kemudian bahwa objek aneh itu merupakan 'pengunjung' yang berasal dari luar Tata Surya kita. Menurut kajian yang dipublikasikan oleh jurnal Nature pada Senin (20/11), objek aneh itu merupakan objek pertama dari luar Tata Surya kita yang berhasil teramati oleh teleskop.

Awalnya, para pakar astronomi mengira objek dengan cahaya redup yang bergerak cepat ini adalah komet atau asteroid yang terbentuk di dalam Tata Surya kita. Namun berdasarkan orbitnya, pakar astronomi menyadari bahwa objek itu datang dari ruang antarbintang. Objek itu bergerak cepat dan sejumlah teleskop sekaligus fokus terhadap pergerakannya selama tiga malam untuk mencari tahu objek apa itu sebenarnya sebelum dia menghilang.

Objek tersebut bergerak dengan kecepatan mencapai 85.700 mil per jam atau sekitar 137.920 kilometer per jam. Diperkirakan ada sekitar satu hingga 10 objek 'pengunjung' semacam ini di Tata Surya kita setiap tahunnya, namun objek itu bergerak terlalu cepat sehingga sulit untuk memantau atau mempelajarinya.

"Apa yang kita temukan adalah objek yang berotasi dengan cepat, setidaknya berukuran sebesar lapangan futbol, yang sorot cahayanya berubah secara dramatis," ucap pemimpin tim peneliti, Karen Meech, dari Institut Astronomi pada Universitas Hawaii. Lapangan futbol khas Amerika memiliki panjang 100 meter dan lebar 50 meter.

Objek panjang dan berbatu yang mirip cerutu ini, memiliki warna kemerah-merahan gelap yang diduga dipicu oleh radiasi sinar kosmik selama berjuta-juta tahun. Warna itu mirip dengan objek yang ditemukan di Kuiper Belt, bagian terluar Tata Surya kita.


Orbit dan bentuk dari objek tak biasa ini masuk kategori objek antarbintang. Kemungkinan besar objek ini mengandung konten logam tinggi dan berputar pada porosnya setiap 7,3 jam. Bentuk objek ini yang memanjang -- panjangnya 10 kali dari lebarnya -- belum pernah terlihat sebelumnya. Objek paling panjang yang pernah terpantau pakar astronomi sebelumnya hanya berukuran panjang tiga kali dari lebarnya.

Secara resmi, objek ini diberi nama A/2017 UI oleh International Astronomical Union (IAU). Namun objek ini punya nama resmi lainnya, yakni 'Oumuamua. Nama 'Oumuamua berasal dari bahasa Hawaii, yang merupakan lokasi teleskop yang menemukannya. Nama itu sendiri berarti 'pembawa pesan yang datang dari masa lalu yang samar'.

"Selama beberapa dekade, kita selalu menarik teori bahwa objek antarbintang semacam ini ada di luar sana, dan sekarang -- untuk pertama kalinya -- kita memiliki bukti langsung bahwa objek ini memang ada. Temuan pencetak sejarah ini membuka jendela baru untuk mempelajari formasi sistem surya di luar kita," ucap Thomas Zurbuchen selaku associate administrator pada Direktorat Misi Ilmiah NASA.

'Oumuamua datang dari arah Vega, bintang terang yang ada di konstelasi Lyra. Meskipun dia bergerak dengan kecepatan 85.700 mil per jam, masih dibutuhkan waktu lama untuk mencapai sistem Tata Surya kita. Vega sendiri tidak lagi berada di posisi yang sama dengan 300 ribu tahun lalu.

Pakar astronomi meyakini 'Oumuamua melewati 'perjalanan' panjang melalui galaksi kita, Galaksi Bima Sakti, selama beratus-ratus juta tahun, tanpa menempel pada sistem bintang manapun, sebelum akhirnya masuk ke sistem Tata Surya kita. Teleskop Bumi dan luar angkasa seperti Hubble dan Spitzer terus memantau pergerakan 'Oumuamua sejauh yang mereka bisa.

Kini objek itu terdeteksi berada di lokasi berjarak 124 juta mil (199.558.656 kilometer) dari Bumi -- sama dengan jarak antara Mars dan Jupiter. Pengamatan rute pergerakannya menunjukkan objek ini sebelumnya melewati orbit Mars dan selanjutnya akan melewati Jupiter pada Mei tahun depan. Objek ini kemudian akan melewati orbit Saturnus pada Januari 2019 sebelum meninggalkan Tata Surya kita dan menuju ke konstelasi Pegasus.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed