Eks Penasihat Trump Diduga Sekongkol dengan Turki Terkait Gulen

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 11 Nov 2017 12:09 WIB
Michael Flynn (REUTERS/Carlos Barria)
Washington DC - Michael Flynn, seorang mantan penasihat keamanan nasional untuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dicurigai terlibat kesepakatan rahasia dengan otoritas Turki. Kesepakatan itu terkait upaya mendeportasi ulama ternama Turki, Fethullah Gulen, yang kini tinggal di AS.

Diketahui bahwa otoritas AS telah menolak permohonan resmi otoritas Turki agar AS mendeportasi Gulen yang kini tinggal di Pennsylvania. Turki terus menuding Gulen mendalangi dan terlibat dalam upaya kudeta untuk melengserkan Presiden Recep Tayyip Erdogan tahun 2016 lalu. Tudingan itu telah dibantah oleh Gulen.

Seperti dilansir Reuters dan AFP, Sabtu (11/11/2017), dugaan konspirasi ini tengah diselidiki oleh penasihat khusus Robert Mueller, mantan Direktur FBI yang ditugasi memimpin penyelidikan dugaan kolusi tim kampanye Trump dengan Rusia dalam pilpres 2016.


Flynn menjadi tokoh sentral dalam penyelidikan yang tengah dilakukan Mueller. Flynn yang seorang purnawirawan letnan jenderal AS ini diketahui melakukan serangkaian pembicaraan dengan mantan Duta Besar Rusia untuk AS, Sergei Kilsyak, semasa kampanye pilpres AS. Flynn dipecat oleh Trump usai pertemuannya dengan Dubes Rusia terungkap ke publik.

Dugaan konspirasi Flynn dengan Turki ini dilaporkan media ternama AS, Wall Street Journal (WSJ) dan NBC, yang mengutip sejumlah sumber yang memahami penyelidikan yang tengah dilakukan Mueller. Baik WSJ maupun NBC menyebut Mueller kini sedang menyelidiki pertemuan Flynn dengan sejumlah pejabat senior Turki, beberapa minggu usai Trump memenangkan pilpres AS tahun 2016 lalu.

Dalam pertemuan itu, disebut telah dibahas 'pembayaran rahasia' sebesar US$ 15 juta (Rp 199 miliar) jika Flynn berhasil mengupayakan deportasi Gulen ke Turki. Dibahas juga soal upaya membebaskan pengusaha berkewarganegaraan Turki-Iran bernama Reza Zarrab, yang terkait Erdogan.


Zarrab ditangkap di Miami pada Maret 2016 atas dakwaan membantu Iran menghindari sanksi-sanksi AS. Zarrab ditahan tanpa jaminan dan terancam 30 tahun penjara jika dinyatakan bersalah atas dakwaan pencucian uang dan pelanggaran sanksi AS.

Menurut sumber-sumber itu, Mueller baru-baru ini mewawancarai sejumlah saksi mata yang mengetahui pertemuan Flynn dengan pejabat Turki di 21 Club, New York City pada Desember 2016. Pertemuan itu juga membahas rencana menerbangkan Gulen dengan jet pribadi ke sebuah penjara Turki di Pulau Imrali.

"Di bawah rencana dakwaan, Flynn dan putranya, Michael Flynn Jr, akan dibayar sebesar US$ 15 juta untuk mengantarkan Fethullah Gulen ke pemerintah Turki, menurut orang-orang yang mengetahui diskusi Flynn dengan perwakilan Turki," sebut WSJ dalam artikelnya.


WSJ menyebut, tidak diketahui pasti seberapa jauh rencana pemulangan Gulen itu sudah berjalan dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan pembayaran telah dilakukan.

Flynn melalui pengacaranya menanggapi laporan itu. Pengacara Flynn, Robert Kelner, menyatakan mereka biasanya tidak mengomentari berita soal klien mereka. "Tapi berita hari ini membahas serangkaian tudingan soal Jenderal Flynn, mulai dari penculikan hingga penyuapan, yang sangat menghina dan penuh prasangka sehingga kami membuat pengecualian terhadap aturan kami: semuanya palsu," tegas Kelner.

(nvc/nkn)