DetikNews
Rabu 08 November 2017, 14:36 WIB

Dikritik DK PBB Soal Krisis Rohingya, Ini Tanggapan Myanmar

Rita Uli Hutapea - detikNews
Dikritik DK PBB Soal Krisis Rohingya, Ini Tanggapan Myanmar pengungsi Rohingya (Foto: Reuters)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Yangon - Pemerintah Myanmar menanggapi statemen Dewan Keamanan PBB yang mengkritiknya terkait krisis Rohingya. Myanmar menyatakan, statemen DK PBB tersebut justru membahayakan upaya-upaya untuk memulangkan warga Rohingya dari Bangladesh.

Sebelumnya pada Senin (6/11) waktu setempat, DK PBB mengeluarkan statemen yang menyerukan Myanmar untuk menghentikan operasi militer di Rakhine, yang telah menyebabkan lebih dari 600 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak akhir Agustus lalu. Dalam statemennya, DK PBB juga menyatakan "keprihatinan mendalam" atas pelanggaran-pelanggaran HAM seperti pembunuhan, kekerasan seksual dan pembakaran rumah, termasuk yang dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar.

Menanggapi pernyataan DK PBB itu, kantor pemimpin sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi menyatakan bahwa statemen tersebut "mengabaikan fakta bahwa masalah-masalah yang dihadapi Myanmar dan Bangladesh saat ini hanya bisa diselesaikan secara bilateral, dengan cara yang damai, antara kedua negara bertetangga."

"Itu (statemen DK PBB) bisa sangat membahayakan negosiasi bilateral antara kedua negara yang telah berjalan lancar dan cepat," demikian disampaikan kantor Suu Kyi seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (8/11/2017).

Setelah beberapa pekan dilanda ketegangan atas krisis Rohingya, Myanmar dan Bangladesh telah memulai pembicaraan soal bagaimana memulangkan para pengungsi Rohingya, yang membludak di kamp-kamp kumuh di Bangladesh.

Namun saat ini kedua negara belum berhasil mencapai kesepakatan. Pekan lalu, Myanmar menuding Bangladesh memperlambat proses pemulangan, sementara seorang pejabat Bangladesh mengatakan bahwa Myanmar belum siap.

Krisis Rohingya telah membuat Suu Kyi menuai kritikan dari komunitas internasional. Meski Suu Kyi memang tak punya kendali atas militer, peraih Nobel Perdamaian itu telah dikecam karena tidak menggunakan otoritas moralnya untuk membela Rohingya.
(ita/ita)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed