Tolak Negosiasi Soal Nuklir, Korut: AS Sebaiknya Berhenti Mengkhayal

Tolak Negosiasi Soal Nuklir, Korut: AS Sebaiknya Berhenti Mengkhayal

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 04 Nov 2017 17:13 WIB
Tolak Negosiasi Soal Nuklir, Korut: AS Sebaiknya Berhenti Mengkhayal
salah satu rudal Korut (Foto: AFP PHOTO/Ed JONES)
Pyongyang - Korea Utara menolak untuk bernegosiasi mengenai program senjata nuklir dan rudalnya. Korut bahkan mengancam akan meningkatkan persenjataan nuklirnya.

Ancaman ini disampaikan Korut seiring dimulainya tur Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Asia.

Kantor berita resmi Korut, KCNA dalam komentarnya hari ini menyatakan bahwa AS harus menghentikan "ide tak masuk akal" bahwa Pyongyang akan menyerah pada sanksi-sanksi internasional dan menyerahkan senjata nuklirnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"AS sebaiknya berhenti mengkhayal soal pembicaraan denuklirisasi dengan kami," demikian disampaikan KCNA seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (4/11/2017).

"Pedang harta nuklir pertahanan diri kami akan semakin tajam selamanya kecuali kebijakan AS yang bermusuhan terhadap DPRK (singkatan nama resmi Korut) dihapuskan sekali dan untuk selamanya," demikian disampaikan KCNA.

Dalam beberapa bulan terakhir, Trump dan pemimpin Korut, Kim Jong-Un telah saling melontarkan hinaan dan ancaman perang. Trump bahkan menyebut bahwa pembicaraan langsung dengan Pyongyang adalah buang-buang waktu saja. Meski para pemimpin dunia terus menyerukan untuk melakukan dialog guna menyelesaikan krisis nuklir Korut.

Dalam kunjungannya ke Asia, Trump akan membahas krisis nuklir Korut. Kepada para pemimpin negara yang ditemuinya, Trump akan menyampaikan bahwa dunia 'kehabisan waktu' menghadapi ancaman Korut.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (3/11/2017), Trump terbang menuju Hawaii, AS pada Jumat (3/11) waktu setempat. Hawaii menjadi perhentian pertama sebelum dia melanjutkan penerbangan ke kawasan Asia. Selanjutnya Trump akan mengunjungi Jepang, Korea Selatan, China, Vietnam dan Filipina.

Kunjungan kenegaraan antara 3-14 November ini akan menjadi tur Asia paling lama oleh seorang Presiden AS selama lebih dari 25 tahun terakhir. (ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads