DetikNews
Minggu 22 Oktober 2017, 04:28 WIB

Trump Izinkan Arsip Rahasia Pembunuhan John F Kennedy Dibuka

Aditya Fajar Indrawan - detikNews
Trump Izinkan Arsip Rahasia Pembunuhan John F Kennedy Dibuka Foto: BBC Magazine
Amerika Serikat - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan mengizinkan arsip rahasia terkait pembunuhan John F Kennedy (JFK) dibuka untuk publik untuk pertama kalinya. JFK yang merupakan Presiden AS ke-35 itu dibunuh pada November 1963.

"Dengan diterimanya informasi lebih lanjut, saya akan mengizinkan, sebagai presiden, JFK FILES yang sudah lama diblokir dan rahasia untuk dibuka," kata Trump dalam akun Twitter resminya, seperti dilansir kantor berita AFP, Minggu (22/10/2017).

Arsip itu rencananya akan dibuka sepenuhnya pada Kamis atau setidaknya 54 tahun setelah pembunuhan Kennedy di Dallas.

Kennedy menjabat sebagai Presiden AS kurang dari 3 tahun. Namun dia kerap dianggap sebagai salah satu presiden AS yang paling dihormati.

Dia baru berusia 46 tahun ketika meninggal. Kennedy dipuji karena semangat mudanya, kepemimpinannya melalui krisis rudal Kuba dan visinya untuk menempatkan manusia di bulan.

Hingga kini kematiannya terus diselimuti misteri termasuk teori-teori konspirasi yang tak pernah padam. Versi resminya, Kennedy ditembak seorang penembak jitu saat duduk di mobil dengan sang istri, Jacqualine, Gubernur Texas John Connaly dan istrinya, Nellie. Mereka dikawal konvoi polisi dan pasukan pengaman presiden atau Secret Service.

Namun, banyak warga AS yang tak percaya bahwa Kennedy dibunuh oleh Lee Harvey Oswald, sesuai hasil kesimpulan penyelidikan kepolisian. Terlalu sederhananya pengungkapan kasus ini membuat sejumlah orang berspekulasi ada konspirasi jahat yang dilakukan para elite kala itu untuk membunuh Kennedy. Sejumlah buku-buku teori konspirasi pun bermunculan. Mereka mempunyai analisa fakta sendiri.

Dari video, foto hingga detik-detik penembakan dianalisa. Hasilnya, mayoritas rakyat AS percaya, Oswald bukanlah pelaku tunggal kejadian ini. Namun sayang, meski desakan publik menguat, tak ada investigasi lanjutan dalam kasus pembunuhan presiden paling menghebohkan di abad ke 20 itu.
(dhn/dhn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed