DetikNews
Kamis 19 Oktober 2017, 16:19 WIB

Pemimpin Tertinggi Iran: Trump Bermulut Kasar dan Pura-pura Idiot

Novi Christiastuti - detikNews
Pemimpin Tertinggi Iran: Trump Bermulut Kasar dan Pura-pura Idiot Ayatollah Ali Khamenei (IRNA)
Teheran - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei enggan mengomentari kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mencabut dukungan terhadap kesepakatan nuklir Iran. Khamenei menyebut Trump 'bermulut kasar' dan 'berpura-pura menjadi idiot'.

Khamenei memberikan komentar sekitar lima hari setelah Trump memutuskan untuk mengambil pendekatan lebih keras terhadap Iran. Trump mencabut dukungan atas kesepakatan itu dan menyerahkan kepada Kongres AS untuk melakukan sejumlah perubahan pada kesepakatan itu.

Dalam pernyataan yang dikutip media Iran, Press TV dan dilansir CNN, Kamis (19/10/2017), Khamenei menyatakan tidak ingin membuang-buang waktu menanggapi Trump. Khamenei berbicara di hadapan kelompok yang disebut sebagai 'ratusan elite muda dan berbakat ilmiah luar biasa'.

"Akan membuang-buang waktu untuk menanggapi omong kosong dan pernyataan tak masuk akal dari Presiden AS yang bermulut kasar," ucap Khamenei dalam pernyataannya.

"Presiden AS berpura-pura menjadi seorang idiot, tapi ini tidak boleh membuat kita lengah," imbuhnya.


"Mereka ingin membawa Iran yang maju, muda dan beriman kembali ke masa 50 tahun lalu, dan tentu hal ini tidak mungkin terjadi, tapi karena keterbelakangan, mereka tidak mampu memahami kenyataan ini, dan untuk alasan ini mereka telah melakukan salah perhitungan dan menderita, dan akan menderita kekalahan berturut-turut di tangan bangsa Iran," tegas Khamenei.

Lebih lanjut, Khamenei menyambut baik dukungan negara-negara Eropa terhadap kesepakatan nuklir itu, namun menyebut dukungan itu tidak cukup. "Eropa harus melawan langkah-langkah AS ... termasuk sanksi-sanksi yang diantisipasi akan muncul dari Kongres (AS)," ucap Khamenei.

Di bawah kesepakatan bernama Rencana Aksi Menyeluruh Gabungan (JCPoA) yang tercapai tahun 2015 itu, Iran sepakat membatasi program pengayaan uranium sebagai balasan atas pencabutan sanksi internasional. Pengawas nuklir PBB berulang kali mensertifikasi Iran selalu mematuhi kesepakatan itu.

Pekan lalu, Trump menuding Iran melanggar kesepakatan itu dan menyebut kesepakatan itu tidak cukup kuat untuk menghalangi ambisi nuklir Iran. Selain AS, kesepakatan nuklir Iran itu juga ditandatangani oleh China, Prancis, Inggris, Jerman, Rusia dan Uni Eropa. Negara-negara itu mengecam keputusan Trump dan kompak untuk memegang teguh kesepakatan itu.


Khamenei menyatakan Iran juga akan tetap teguh memegang komitmen kesepakatan nuklir itu, selama negara-negara lain tidak memutuskan untuk mengakhirinya. "Selama pihak lain tidak menghancurkan JCPoA, kami juga tidak akan menghancurkannya. Namun, jika mereka mengoyak JCPoA, kami akan mencabiknya," tandas Khamenei.

Trump tidak langsung menarik diri dari kesepakatan itu, namun hanya menolak memberikan sertifikasi reguler, hal yang harus dilakukan Presiden AS setiap 90 hari. Jika sertifikasi tidak diberikan, maka Kongres memiliki opsi untuk mengajukan aturan baru guna menerapkan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran yang sebelumnya dicabut atau ditangguhkan. Jika tidak ada aturan baru, Trump mengancam akan mematikan kesepakatan itu.


(nvc/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed