DetikNews
Kamis 19 Oktober 2017, 12:27 WIB

Profesor Malaysia Terkait Militan Pro-ISIS Diyakini Tewas di Marawi

Novi Christiastuti - detikNews
Profesor Malaysia Terkait Militan Pro-ISIS Diyakini Tewas di Marawi Tentara Filipina siaga di Marawi (REUTERS/Romeo Ranoco)
Manila - Militer Filipina meyakini profesor Malaysia yang tengah diburu terkait militan pro-ISIS telah tewas. Profesor bernama Mahmud Ahmad ini diyakini tewas bersama 12 militan lainnya dalam pertempuran sengit di kota Marawi.

Dituturkan Wakil Komandan Operasi Militer di Marawi, Kolonel Romeo Brawner, seperti dilansir Reuters, Kamis (19/10/2017), operasi militer di Marawi dilancarkan semalam terhadap puluhan loyalis militan pro-ISIS yang bersembunyi di kota Marawi. Sedikitnya 13 militan tewas dalam operasi itu.

"Ada kemungkinan besar bahwa Dr Mahmud ada di antara mereka, tapi kami hanya akan yakin setelah kami mendapatkan sampel DNA yang cocok, mungkin catatan gigi," ucap Brawner kepada wartawan setempat. Selain sampel DNA, penyelidikan untuk memastikan kematian Mahmud juga akan dilakukan dengan menanyai para sandera.


Mahmud (39) yang bergelar doktor dan pernah menjadi profesor Universiti Malaya ini, diyakini menjadi sosok penting dalam pendanaan militan pro-ISIS di Marawi. Militer Filipina sebelumnya menyebut Mahmud telah menyalurkan dana US$ 600 ribu dan merekrut sejumlah militan untuk serangan teror di Marawi pada 23 Mei lalu. Lebih dari 1.000 orang tewas dan 400 ribu orang lainnya mengungsi akibat serangan itu.

Pada Senin (16/10), otoritas Filipina mengumumkan kematian dua pemimpin militan pro-ISIS, Isnilon Hapilon dan Omarkhayam Maute. Isnilon tewas ditembak di kepala oleh seorang penembak jitu, sedangkan Omarkhayam tewas akibat luka di bagian dada dalam operasi yang digelar malam hari itu.

Isnilon disebut sebagai emir (pemimpin) ISIS di Asia Tenggara. Sedangkan Mahmud, oleh para pakar disebut sebagai orang nomor dua setelah Isnilon. Pada Juni lalu, seorang pejabat senior intelijen Malaysia menyebut Mahmud sangat berbahaya dan menjadi otak di balik bersatunya faksi Abu Sayyaf pro-ISIS dengan militan Maute. Bersama Isnilon, Mahmud diyakini berniat mendirikan kekhalifahan ISIS di Asia Tenggara.


Sejumlah pakar keamanan menyebut Mahmud pernah belajar di Pakistan sebelum pergi ke Afghanistan untuk belajar merakit bom di kamp Al-Qaeda. Dia diketahui meninggalkan Malaysia sejak tahun 2014.

Brawner menegaskan, pihaknya masih belum yakin sepenuhnya atas kematian Mahmud. Militer Filipina juga masih mencari tahu jumlah militan pro-ISIS yang tersisa di Marawi. "Perlawanan masih ada di sana. Faktanya, kita bisa mendengar suaranya, pertempuran masih berlangsung," kata Brawner, saat suara baku tembak menggema di Marawi.


(nvc/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed