DetikNews
Jumat 13 Oktober 2017, 10:40 WIB

Pernah Keluar Lalu Masuk, Kini AS Keluar Lagi dari UNESCO, Kenapa?

Novi Christiastuti - detikNews
Pernah Keluar Lalu Masuk, Kini AS Keluar Lagi dari UNESCO, Kenapa? Markas UNESCO di Paris (REUTERS/Philippe Wojazer)
Washington DC - Amerika Serikat (AS) memutuskan keluar dari keanggotaan Badan Kebudayaan PBB, UNESCO setelah menudingnya memiliki kecenderungan anti-Israel. Tak hanya itu, AS juga disebut-sebut ingin menghemat pengeluaran karena negara itu penyumbang tetap UNESCO.

Dalam keterangan resmi saat mengumumkan rencana keluarnya AS dari UNESCO (Organisasi Kebudayaan, Keilmuan dan Pendidikan PBB), juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Heather Nauert, menyinggung soal 'bias anti-Israel' dan 'tunggakan' pada Badan PBB yang bertugas melindungi warisan budaya dan alam di seluruh dunia ini.

"Keputusan ini tidak diambil secara mudah dan merefleksikan kekhawatiran AS pada memuncaknya tunggakan di UNESCO, perlunya reformasi fundamental dalam tubuh organisasi ini yang terus melanjutkan bias anti-Israel," ujar Nauert seperti dilansir Reuters, Jumat (13/10/2017).

Keputusan AS itu disesalkan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) UNESCO Irina Bokova. "Ini kehilangan besar bagi keluarga PBB. Ini kehilangan besar bagi multilateralisme," sebutnya. Keputusan AS baru efektif berlaku pada akhir Desember 2018.


Dilaporkan media AS, Foreign Policy, keputusan keluar dari UNESCO ini diambil Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson sejak beberapa pekan lalu. Salah satu alasannya, disebut sebagai penghematan anggaran.

Diketahui bahwa AS yang merupakan penyedia seperlima atau 22 persen dari anggaran total UNESCO, telah menahan aliran dana untuk Badan PBB itu sejak tahun 2011, saat UNESCO mengakui Palestina sebagai anggota penuh. AS dan Israel bersama 12 negara, dari total 194 negara anggota, menolak mengakui Palestina.

Kucuran dana dari AS kepada UNESCO mencapai US$ 80 juta per tahunnya. Dengan dihentikannya kucuran dana itu, maka sejak tahun 2011 hingga kini setidaknya ada lebih dari US$ 500 juta yang ditahan oleh AS. Menlu Tillerson disebut ingin memperingan beban ini dari anggaran AS.

Foreign Policy menyebut Deplu AS ingin menunda penarikan diri dari UNESCO hingga Badan PBB itu memilih Dirjen barunya pekan ini. Negara-negara anggota UNESCO memang masih dalam proses voting mencari pengganti Bokova, yang masa jabatannya segera berakhir.


Dari tiga kandidat kuat, kandidat Qatar Hamad bin Abdulaziz al-Kawari unggul sementara atas dua kandidat lainnya, yakni Audrey Azoulay dari Prancis dan Moshira Khattab dari Mesir. Dilaporkan The Guardian, mencuatnya dukungan untuk Al-Kawari dipandang oleh AS, juga Israel sebagai kegagalan upaya mereka untuk mengamankan posisi pemimpin UNESCO bagi tokoh yang mereka anggap 'lebih ramah'.

Awal pekan ini, Duta Besar Israel untuk UNESCO menyebut hasil voting sementara itu sebagai 'kabar buruk bagi organisasi dan sangat disayangkan oleh Israel'. Mengikuti jejak AS, Israel juga memutuskan untuk keluar dari UNESCO.

Yang dimaksud dengan bias anti-Israel ialah berbagai kebijakan UNESCO yang dianggap AS dan Israel lebih memihak Palestina. Salah satunya soal sengketa tempat-tempat warisan budaya di Yerusalem dan wilayah Palestina.

PM Israel Benjamin Netanyahu, bulan lalu, menyebut UNESCO memperjuangkan 'sejarah palsu' setelah Badan PBB itu menetapkan Hebron dan dua kuil di jantung wilayah itu -- makam Para Patriark Yahudi (Jewish Tomb of the Patriarch) dan Masjid Ibrahim -- sebagai situs warisan dunia yang berada dalam bahaya atau 'Palestinian World Heritage Site in Danger'.


Tahun lalu, sebuah resolusi UNESCO yang didukung negara-negara Arab berisi kecaman terhadap kebijakan Israel di tempat-tempat religius di Yerusalem Timur dan Tepi Barat.

Ini bukan pertama kalinya AS keluar dari UNESCO. Tahun 1984 silam, pemerintahan Presiden Ronald Reagan juga memutuskan hal serupa dengan menyebut korupsi dan hal yang disebut sebagai kecondongan ideologi terhadap Uni Soviet sebagai alasannya. AS kemudian kembali bergabung dengan UNESCO tahun 2002, di bawah kepemimpinan Presiden George W Bush. Alasannya, Bush menganggap UNESCO mulai tertata dan telah mengurangi bias anti-Barat dan anti-Israel.

"Amerika akan berpartisipasi secara penuh dalam misi memajukan HAM, toleransi dan pembelajaran," sebut Bush saat itu.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed