Dalam statemennya, CENC menyatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Minggu (24/9/2017), hasil studi data infrasonik memastikan bahwa "insiden tersebut bukan ledakan nuklir, melainkan sesuai dengan ciri-ciri alami gempa bumi".
Akademi Sains China juga merilis laporan yang menyampaikan hal senada, serta sesuai dengan hipotesa para pakar internasional bahwa gempa pada Sabtu (23/9) tersebut merupakan akibat yang tertunda dari ledakan nuklir sebelumnya. Pada 3 September lalu, Korut melakukan uji coba nuklir yang merupakan bom nuklir terkuat Korut sejauh ini. Uji coba nuklir tersebut memicu gempa berkekuatan 6,3 SR yang getarannya dirasakan di seluruh perbatasan di China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uji coba nuklir tersebut memicu kecaman global dan mendorong Dewan Keamanan PBB mengeluarkan sanksi-sanksi baru terhadap Korut. Namun sanksi-sanksi baru itu tak membuat Korut gentar. Negeri komunis itu menegaskan akan terus mengembangkan program senjata nuklirnya, yang menurutnya diperlukan untuk melindungi negara tersebut dari ancaman invasi AS.
(ita/ita)










































