Serukan Dialog, China Minta Korut Tak Semakin Mengarah ke Bahaya

Serukan Dialog, China Minta Korut Tak Semakin Mengarah ke Bahaya

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 22 Sep 2017 15:18 WIB
Serukan Dialog, China Minta Korut Tak Semakin Mengarah ke Bahaya
Momen saat Korut meluncurkan rudal balistiknya beberapa waktu lalu (KCNA/via REUTERS)
New York - Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyerukan Korea Utara (Korut) untuk tidak semakin mengarah dalam bahaya dengan program nuklirnya. China kembali menegaskan solusi untuk krisis Korut hanya bisa dicapai melalui jalur perundingan.

Dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat (AS), seperti dilansir Reuters, Jumat (22/9/2017), Wang Yi menegaskan komitmen China bagi denuklirisasi Semenanjung Korea. Menurutnya, tidak seharusnya ada senjata nuklir baru, baik di utara maupun selatan perbatasan, maupun di wilayah lain di Asia Timur Laut.

Lebih lanjut, Wang Yi mendorong AS untuk menjunjung tinggi "komitmen empat 'tidak'" yang merujuk pada pernyataan Menlu AS Rex Tillerson pada 1 Agustus lalu. Dalam pernyataan itu, Tillerson menyatakan AS tidak berupaya menggulingkan atau mengubah pemerintahan Korut, tidak berupaya mempercepat reunifikasi Semenanjung Korea dan tidak akan mengirimkan militernya ke wilayah Korut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Terlepas dari itu, Wang Yi juga melontarkan seruan untuk Korut, yang terus menuai kecaman dunia karena uji coba nuklir dan rudalnya. China sendiri merupakan satu-satunya sekutu dan mitra dagang utama Korut. Namun belakangan China merasa geram dengan aksi-aksi provokasi Korut.

"Kami mendesak DPRK untuk tidak terus bergerak ke arah berbahaya," tegas Wang Yi, menyebut singkatan nama resmi Korut, Republik Demokratik Rakyat Korea.

"Kami menyerukan kepada semua pihak untuk memainkan peranan konstruktif dalam meredakan ketegangan. Masih ada harapan bagi perdamaian dan kita tidak boleh menyerah," imbuhnya.

"Perundingan menjadi satu-satunya jalan keluar, yang pantas diupayakan. Semua pihak harus bisa sepakat, dengan mengatasi kekhawatiran logis masing-masing," ucap Wang Yi.


Wang Yi tidak menyinggung sanksi baru yang dijatuhkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk Korut. Dengan sanksi baru AS itu, orang-orang dan entitas yang terlibat bisnis dengan Korut, termasuk pengiriman barang via kapal dan perdagangan, bisa masuk daftar hitam dan dikenai sanksi. Sektor-sektor yang dijadikan sasaran sanksi baru adalah industri tekstil, perikanan, teknologi informasi dan manufaktur.

China selama ini mendukung sanksi-sanksi PBB untuk program nuklir Korut. Namun China menentang setiap sanksi sepihak, khususnya menyasar entitas dan individu dari negaranya.

(nvc/ita)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads