Peraih Nobel: Suu Kyi Harusnya Tak Terima Hadiah Nobel Perdamaian

Peraih Nobel: Suu Kyi Harusnya Tak Terima Hadiah Nobel Perdamaian

Rita Uli Hutapea - detikNews
Selasa, 19 Sep 2017 15:57 WIB
Peraih Nobel: Suu Kyi Harusnya Tak Terima Hadiah Nobel Perdamaian
Aung San Suu Kyi (Foto: REUTERS/Soe Zeya Tun)
Yangon - Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi mendapat kecaman keras dari sesama peraih Nobel Perdamaian terkait krisis Rohingya. Terlebih setelah Suu Kyi menyampaikan pidato publiknya yang pertama mengenai konflik di negara bagian Rakhine yang dihuni warga minoritas muslim Rohingya.

Dalam pidatonya hari ini, meski mengaku prihatin akan eksodus warga Rohingya dari Rakhine, namun Suu Kyi tidak mengecam kekerasan yang dilakukan militer Myanmar di Rakhine. Suu Kyi bahkan berkilah bahwa mayoritas warga muslim tetap tinggal di Rakhine, tidak ikut mengungsi.

Peraih Nobel asal Bangladesh, Muhammad Yunus mengaku kecewa dengan sikap Suu Kyi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dia seharusnya tak menerima hadiah Nobel Perdamaian jika dia mengatakan, maaf, saya politisi, dan norma-norma demokrasi tak cocok untuk saya," cetus Yunus dalam wawancara telepon dengan The New York Times, Selasa (19/9/2017).

"Seluruh dunia mendukungnya selama beberapa dekade, namun hari ini dia telah menjadi bayangan cermin Aung San Suu Kyi dengan menghancurkan HAM dan menolak kewarganegaraan Rohingya," kata Yunus yang meraih Nobel Perdamaian pada tahun 2006.

"Yang bisa lakukan adalah berdoa untuk kembalinya Aung San Suu Kyi yang lama," imbuhnya.

Dalam pidatonya hari ini, Suu Kyi mengakui rapuhnya kondisi demokrasi di negaranya. "Kita adalah demokrasi muda dan rapuh yang menghadapi banyak masalah, namun kita harus menangani itu semua di waktu yang sama," tutur Suu Kyi.

Sebenarnya tak lama setelah Suu Kyi dibebaskan dari tahanan rumah pada tahun 2010 silam, wanita itu telah mematahkan harapan komunitas internasional yang ditujukan untuknya. "Biar saya perjelas bahwa saya ingin dipandang sebagai seorang politisi, bukan seperti ikon HAM," cetus Suu Kyi saat itu. (ita/ita)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads