Dukungan China ini disampaikan meski sejumlah pemimpin negara mengecam operasi militer, yang telah menyebabkan hampir 400 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Sekjen PBB Antonio Guterres bahkan menyebut pengungsian besar-besaran tersebut sebagai "pembersihan etnis".
"Sikap China menyangkut serangan-serangan teroris di Rakhine adalah jelas, itu cuma masalah dalam negeri," demikian disampaikan Duta Besar China untuk Myanmar, Hong Liang, seperti dikutip media pemerintah Global New Light of Myanmar dan dilansir Reuters, Kamis (14/9/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi menuai kecaman banyak pihak terkait kekerasan di Rakhine dan eksodus pengungsi Rohingya. Bahkan sejumlah pengkritik menyerukan agar hadiah Nobel Perdamaian dicabut dari Suu Kyi karena tak berbuat banyak untuk menghentikan kekerasan terhadap Rohingya.
Sekjen PBB Antonio Guterres dan Dewan Keamanan PBB pun menyerukan otoritas Myanmar untuk menghentikan kekerasan itu. Bahkan menurut Guterres, situasi di Rakhine mirip seperti pembersihan etnis.
"Ketika sepertiga populasi Rohingya harus meninggalkan negara itu, bisakah Anda menemukan kata yang lebih baik untuk menggambarkan itu," ujar Guterres saat konferensi pers di New York, AS.
Pemerintah Myanmar bersikeras bahwa pihaknya tengah melakukan kampanye sah untuk memerangi para teroris di Rakhine. Namun menurut para pengungsi Rohingya, operasi militer dilakukan Myanmar untuk mengusir warga muslim Rohingya keluar dari Myanmar yang mayoritas Buddha. (ita/ita)











































