DetikNews
Rabu 13 September 2017, 16:16 WIB

Fakta-fakta Halimah Yacob, Muslimah yang Jadi Presiden Singapura

Novi Christiastuti - detikNews
Fakta-fakta Halimah Yacob, Muslimah yang Jadi Presiden Singapura Halimah Yacob (REUTERS/Edgar Su)
Singapura - Presiden ke-8 Singapura, Halimah Yacob, akan resmi dilantik Kamis (14/9) besok sebelum memulai masa jabatannya untuk enam tahun ke depan. Ini fakta-fakta Halimah yang mencetak sejarah sebagai muslimah pertama yang menjadi Presiden Singapura.

Halimah lahir di Queen Street, Singapura pada 23 Agustus 1954. Dia merupakan anak paling bungsu dari lima bersaudara dan semua saudaranya laki-laki. Ayahnya yang seorang muslim keturunan India dan bekerja sebagai penjaga keamanan, meninggal dunia saat Halimah masih berusia 8 tahun.

Dia dibesarkan oleh ibundanya, Maimun Abdullah, wanita keturunan Melayu yang saat itu bekerja di kedai makanan milik kerabatnya. Ibunda Halimah saat itu berjualan nasi padang. Halimah yang masih sekolah mengaku kerap membolos demi membantu ibundanya berjualan. Dia mencuci piring, membersihkan meja dan melayani pembeli.

Halimah bersama ibundanya, Maimun AbdullahHalimah bersama ibundanya, Maimun Abdullah Foto: Dok. Istimewa

Karena terlalu sering membolos untuk membantu ibundanya, Halimah sempat akan dikeluarkan dari sekolahnya di Singapore Chinese Girls' School. Halimah yang keturunan Melayu, menjadi minoritas di sekolah khusus warga keturunan China itu.

Ibunda Halimah menjadi sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Sang ibunda meninggal dunia dalam usia 90 tahun pada September 2015, saat Singapura menggelar pemilu parlemen. Momen itu menjadi momen paling menyedihkan dalam hidup Halimah.

Halimah dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan keluarganya. Suaminya, Mohammed Abdullah Alhabshee, merupakan mantan pengusaha keturunan Arab. Pasangan yang menikah tahun 1980 ini memiliki lima anak yang kini berusia 26 tahun hingga 35 tahun. Sebelum mencalonkan diri menjadi Presiden Singapura, Halimah terlebih dahulu meminta izin suami dan anak-anaknya.


Halimah kuliah di University of Singapura mengambil jurusan hukum, sebelum akhirnya bergabung dengan Kongres Serikat Perdagangan Nasional (NTUC) sebagai staf legal. Selama lebih dari 30 tahun Halimah mengabdi di NTUC hingga akhirnya ditunjuk menjadi Wakil Sekretaris Jenderal.

Tahun 2001, Halimah memulai karier politiknya. Dalam wawancara dengan media Singapura, Channel News Asia, Halimah mengaku awalnya sama sekali tidak berpikir untuk terjun ke dunia politik. Halimah juga sama sekali tidak membayangkan akan mencalonkan diri dalam pilpres.

Halimah terjun ke dunia politik atas dorongan dari Perdana Menteri Singapura saat itu, Goh Chok Tong. Dia mencalonkan diri sebagai anggota parlemen dan menang dalam empat pemilu parlemen sejak tahun 2001. Halimah mewakili wilayah Jurong dan Marsiling-Yew Tee.

Halimah dan suaminya, Mohammed AbdullahHalimah dan suaminya, Mohammed Abdullah Foto: REUTERS/Edgar Su

Tahun 2011, Halimah ditunjuk menjadi Menteri Negara pada Kementerian Pengembangan Masyarakat, Urusan Pemuda dan Olahraga Singapura.

Halimah yang saat itu tergabung dengan Partai Aksi Rakyat (PAP), ditunjuk menjadi Ketua Parlemen pada tahun 2013. Dia mencetak sejarah sebagai wanita pertama yang menjabat Ketua Parlemen Singapura. PAP merupakan partai politik yang sejak lama berkuasa di Singapura dan menaungi Perdana Menteri Lee Hsien Loong yang kini menjabat.

Selama 4 tahun Halimah menjabat Ketua Parlemen Singapura, sebelum mengundurkan diri pada Agustus 2017 saat dia memutuskan mencalonkan diri dalam pilpres. Halimah juga mengundurkan diri dari keanggotaan PAP. Perlu diketahui bahwa seorang capres di Singapura tidak boleh tergabung dalam partai politik mana pun.


Halimah menjadi salah satu kandidat dari total lima kandidat capres dalam pilpres tahun ini, yang secara khusus diperuntukkan bagi komunitas Melayu. Pada 11 September kemarin, Halimah dinyatakan sebagai satu-satunya kandidat yang memenuhi syarat untuk menjadi capres.

Selain mencetak sejarah sebagai wanita pertama yang menjadi Presiden Singapura, Halimah juga mencatatkan diri sebagai Presiden dari komunitas Melayu pertama dalam 47 tahun terakhir. Diketahui bahwa saat ini, populasi Singapura terdiri atas 74 persen komunitas China, 13 persen komunitas Melayu, 9 persen komunitas India dan 3,2 persen komunitas lainnya.

Komisi Pemilihan Presiden (PEC) hanya merilis Sertifikat Kelayakan untuk Halimah. Tanpa adanya pesaing lain bagi Halimah, maka tidak ada pemungutan suara di Singapura yang tadinya direncanakan digelar pada 23 September mendatang.

Halimah disambut oleh pendukungnya usai dia ditetapkan menjadi Presiden ke-8 SingapuraHalimah disambut oleh pendukungnya usai dia ditetapkan menjadi Presiden ke-8 Singapura Foto: REUTERS/Edgar Su

Dengan demikian, Halimah mencatatkan diri sebagai Presiden Singapura terpilih tanpa pemungutan suara. Dia ditetapkan secara resmi menjadi Presiden ke-8 Singapura pada Rabu (13/9) siang waktu setempat dan baru akan dilantik pada Kamis (14/9) sore di Istana Kepresidenan Singapura.


(nvc/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed