Zaw Htay, juru bicara kantor Suu Kyi menyatakan, peraih Nobel Perdamaian tersebut tak akan hadir di Sidang Umum PBB dikarenakan ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh para militan dan upaya-upanya untuk memulihkan stabilitas.
"Dia berupaya mengendalikan situasi keamanan, untuk mendapatkan perdamaian internal dan stabilitas, dan mencegah menyebarnya konflik komunal," ujar Htay seperti dikutip kantor berita Reuters, Rabu (13/9/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekerasan kembali marak di Rakhine sejak 25 Agustus lalu, ketika kelompok militan Rohingya melancarkan serangan ke puluhan pos polisi dan pangkalan militer. Militer Myanmar merespons serangan tersebut dengan melancarkan operasi militer besar-besaran, yang telah menyebabkan lebih dari 300 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh.
Sebelumnya dalam pidato pertamanya sebagai pemimpin negara di depan Majelis Umum PBB pada September 2016 lalu, Suu Kyi membela upaya-upaya pemerintahannya untuk menyelesaikan krisis Rohingya di negaranya.
(ita/ita)











































