"Perlakuan biadab yang diberikan pada saudara-saudara muslim kita ... tak akan berlalu tanpa hukuman," demikian statemen al-Qaeda menurut kelompok pemantau ekstremis yang berbasis di Amerika, SITE seperti dilansir kantor berita Reuters, Rabu (13/9/2017).
"Pemerintah Myanmar harus dibuat untuk merasakan apa yang telah dirasakan saudara-saudara muslim kita," demikian disampaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gelombang kekerasan kembali marak di negara bagian Rakhine, Myanmar sejak 25 Agustus lalu, ketika para militan Rohingya melancarkan serangan-serangan ke puluhan pos polisi dan pangkalan militer. Otoritas Myanmar merespons serangan tersebut dengan melakukan operasi militer besar-besaran di Rakhine. Sekitar 400 ribu orang telah mengungsi ke Bangladesh akibat operasi militer tersebut.
Pemerintah Myanmar bersikeras bahwa pasukannya tengah melancarkan kampanye sah terhadap para "teroris" yang melancarkan serangan-serangan terhadap polisi, tentara dan warga sipil.
Awal bulan ini, pemimpin senior Al-Qaeda di Yaman juga menyerukan serangan terhadap otoritas Myanmar. Seruan serangan ini disebut Al-Qaeda sebagai bentuk dukungan untuk etnis minoritas muslim Rohingya yang tertindas di negara tersebut.
Dalam pesan videonya, pemimpin senior kelompok Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP), Khaled Batarfi, menyerukan warga muslim di Bangladesh, India, Indonesia dan Malaysia untuk mendukung Rohingya melawan 'musuh-musuh Allah'. Batarfi juga mendorong kelompok Al-Qaeda di Subkontinen India (AQIS) untuk melakukan serangan terhadap otoritas Myanmar.
"Jangan berhenti dalam mengobarkan jihad terhadap mereka dan melawan serangan mereka dan jangan sampai mengecewakan saudara-saudara kita di Burma (Myanmar)," tegas Batarfi dalam pesan video itu. Batarfi diketahui bebas dari sebuah penjara di Yaman pada tahun 2015, saat AQAP menguasai kota pelabuhan Mukalla.
(ita/ita)











































