Khamenei mengatakan, tekanan-tekanan diperlukan agar pemerintah Myanmar menghentikan kekerasan terhadap warga muslim Rohingya di negara tersebut.
Khamenei menyatakan, langkah-langkah praktis harus dilakukan pemerintahan negara-negara Islam untuk mengakhiri krisis Rohingya di Myanmar. "Tentu saja, langkah-langkah praktis bukan berarti pengerahan militer. Sebaliknya, mereka harus meningkatkan tekanan politik, ekonomi dan perdagangan terhadap pemerintah Myanmar dan berseru menentang kejahatan ini di organisasi-organisasi internasional," ujar Khamenei seperti dilansir media Press TV, Rabu (13/9/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini masalah politik karena pihak yang melakukan kejahatan adalah pemerintah Myanmar, yang di puncaknya adalah seorang wanita kejam yang telah memenangkan hadiah Nobel Perdamaian," tuturnya mengenai Suu Kyi yang meraih Nobel Perdamaian pada tahun 1991.
Suu Kyi telah menuai kritikan banyak pihak karena dianggap tidak berbuat banyak untuk menghentikan kekerasan terhadap warga muslim Rohingya di Rakhine.
Ayatollah Khamenei pun mengatakan, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) harus menggelar pertemuan untuk membahas krisis Rohingya ini.
Kekerasan kembali marak di Rakhine sejak 25 Agustus lalu, ketika kelompok militan Rohingya melancarkan serangan ke puluhan pos polisi dan pangkalan militer. Militer Myanmar merespons serangan tersebut dengan melancarkan operasi militer besar-besaran, yang telah menyebabkan sekitar 300 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh. (ita/ita)











































