DetikNews
Selasa 12 September 2017, 14:05 WIB

Jadi Presiden Wanita Pertama Singapura, Halimah Dulunya Ratu Bolos

Novi Christiastuti - detikNews
Jadi Presiden Wanita Pertama Singapura, Halimah Dulunya Ratu Bolos Halimah Yacob (REUTERS/Edgar Su)
Singapura - Sosok Halimah Yacob yang akan menjadi presiden wanita pertama di Singapura, ternyata gemar membolos sekolah semasa kecil. Siapa sangka, Halimah kemudian berhasil menjadi anggota parlemen, hingga akhirnya menjabat Ketua Parlemen Singapura selama 4 tahun terakhir.





Seperti dilansir media Singapura, Channel News Asia, Selasa (12/9/2017), Halimah yang kini berusia 63 tahun pernah dijuluki 'ponteng queen' atau 'ratu bolos sekolah' saat duduk di bangku sekolah menengah. Dia bersekolah di Singapore Chinese Girls' School meskipun berasal dari etnis Melayu yang minoritas.

Dituturkan Halimah bahwa saat itu, dirinya nyaris dikeluarkan dari sekolah karena terlalu banyak membolos. Namun sebenarnya, alasannya membolos sungguh mulia, yakni untuk membantu ibundanya berjualan di kedai makanan milik kerabatnya. Ibunda Halimah, Maimun Abdullah, meninggal dunia dalam usia 90 tahun pada September 2015.


Sedangkan ayah Halimah meninggal dunia saat dia baru berusia 8 tahun. Sang ibunda terpaksa menjadi tulang punggung keluarga dan bekerja keras untuk keluarga. Dituturkan Halimah, ibundanya biasa bekerja di kedai makanan sejak pukul 04.00 dini hari hingga pukul 22.00 malam setiap harinya.

"Saya tidak masuk sekolah untuk waktu lama dan akhirnya saya harus dipanggil ke kantor kepala sekolah dan diberitahu, 'Nak, jika kamu tetap tidak masuk sekolah, saya harus mengeluarkanmu dari sekolah'. Itu ultimatum terakhir," tutur Halimah penuh kenangan sambil tertawa kecil.

"Itu adalah salah satu momen terburuk dalam hidup saya. Tapi saya memberitahu diri saya, 'Berhenti mengasihani dirimu sendiri, bangkit dan terus maju'," imbuhnya.


Pola pikir itu lantas menjadi moto hidup Halimah, yang mengakui dirinya banyak mengalami hambatan dan kegagalan dalam hidup. Halimah sama sekali tidak berpikir untuk terjun ke dunia politik jika memikir ke belakang pada tahun 2001 lalu, saat dia terpilih menjadi anggota Parlemen. Halimah juga sama sekali tidak membayangkan akan mengikuti pilpres Singapura.

"Keinginan saya saat itu sederhana. Menyelesaikan sekolah dan mendapat pekerjaan, kemudian saya bisa menghidupi diri saya sendiri, ibu saya. Saya tidak punya banyak waktu," ucapnya kepada Channel News Asia.


Melihat ke belakang, Halimah menyebut pengalamannya menghadapi banyak mengalami kesulitan dan kegagalan telah membantunya untuk berempati dan memahami kesulitan dan tantangan yang dihadapi Singapura saat ini.

"Penderitaan seharusnya tidak menjadi penghambat. Saya pikir mungkin jika hidup saya jauh lebih mudah, saya tidak akan seperti ini sekarang. Tapi karena hidup saya sulit, itulah mengapa saya belajar begitu banyak hal, saya belajar untuk bertahan hidup," tandasnya.

Halimah menjabat Ketua Parlemen Singapura sejak Januari 2013 hingga Agustus 2017. Dia mengundurkan diri dari jabatannya juga dari keanggotaan Partai Aksi Rakyat (PAP) saat mencalonkan diri menjadi Presiden Singapura pada Agustus lalu. PAP merupakan partai politik yang sejak lama berkuasa di Singapura dan menaungi Perdana Menteri Lee Hsien Loong. Seorang capres di Singapura tidak boleh tergabung dalam partai politik mana pun.


Awal pekan ini, Halimah ditetapkan sebagai satu-satunya capres yang memenuhi syarat dan telah mendapat Sertifikat Kelayakan dari Komisi Pemilihan Presiden (PEC). Empat capres lainnya gugur karena tidak memenuhi syarat. Jika tidak ada halangan, Halimah akan dilantik menjadi Presiden ke-8 Singapura pada Rabu (13/9) besok dan mulai menjalankan masa jabatannya pada Kamis (14/9) lusa.


(nvc/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed