DetikNews
Senin 11 September 2017, 18:49 WIB

Sebut Rohingya Korban Genosida, Bangladesh: Haruskah Semua Dibunuh?

Novi Christiastuti - detikNews
Sebut Rohingya Korban Genosida, Bangladesh: Haruskah Semua Dibunuh? Tentara Myanmar berjaga di desa muslim di Rakhine yang hangus terbakar (AFP PHOTO/STR)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Dhaka - Otoritas Bangladesh melontarkan komentar keras terkait penindasan yang terus dialami etnis minoritas muslim Rohingya di Myanmar. Bangladesh menyebut apa yang sedang terjadi di Rakhine sebagai praktik genosida.

Seperti dilansir AFP, Senin (11/9/2017), komentar itu disampaikan Menteri Luar Negeri Bangladesh, AH Mahmood Ali, usai bertemu para diplomat negara-negara Arab dan Barat serta Ketua Badan-badan PBB di Bangladesh. Pertemuan itu bertujuan untuk meminta dukungan bagi terciptanya solusi politik dan bantuan kemanusiaan bagi warga Rohingya di Myanmar.

"Komunitas internasional menyebutnya sebuah genosida. Kami juga menyebutnya sebagai genosida," tegas Mahmood Ali kepada wartawan usai menemui para diplomat itu di ibu kota Dhaka.




Kepada para diplomat asing, Mahmood Ali menuturkan 300 ribu warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dalam dua pekan terakhir. Dengan jumlah itu, sebut Mahmood Ali, saat ini total ada 700 ribu pengungsi Rohingya di wilayahnya. "Ini sekarang menjadi masalah nasional," sebutnya.

Sedikitnya dua diplomat yang menghadiri pertemuan dengan Mahmood Ali itu, menyatakan otoritas Bangladesh menyebut 3 ribu orang tewas dalam kekerasan terbaru di Rakhine. Jumlah itu belum bisa diverifikasi secara independen.

PBB dalam laporan terbaru menyebut sudah 313 ribu pengungsi Rohingya yang berada di Bangladesh, sejak konflik kembali pecah di Rakhine pada 25 Agustus lalu. Konflik pecah setelah militan Rohingya menyerang puluhan pos polisi dan pangkalan militer Myanmar. Serangan itu berujung pada operasi militer besar-besaran di Rakhine yang memicu eksodus warga Rohingya.


Hingga kini diyakini puluhan ribu warga Rohingya lainnya masih berada di dalam Rakhine dan berusaha untuk menyelamatkan dari konflik.

Dalam pernyataannya, Mahmood Ali menyebut Myanmar telah melakukan 'propaganda jahat' dengan menyebut warga Rohingya sebagai 'imigran legal dari Bangladesh' dan militan Rohingya sebagai 'teroris Benggala'. Dijelaskan Mahmood Ali bahwa warga Rohingya di Rakhine merupakan 'kelompok campuran' yang memiliki sejarah panjang hingga 1.500 tahun silam, dengan nenek moyang dari banyak wilayah termasuk Arab dan India.

Lebih lanjut, Mahmood Ali menyebut operasi militer Myanmar di Rakhine usai serangan militan Rohingya pada 25 Agustus sebagai 'balasan' dari militer Myanmar. "Haruskah semua orang dibunuh? Haruskah semua desa dibakar? Ini tidak bisa diterima," ucap Mahmood Ali, sembari menyatakan bahwa otoritas Bangladesh mengupayakan solusi damai dan bukan mencari perang dengan Myanmar.


"Kami tidak menciptakan persoalan. Mengingat persoalannya dimulai di Myanmar, itulah mengapa mereka yang harus menyelesaikannya. Kami telah mengatakan kami akan membantu mereka," imbuhnya.


(nvc/imk)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed