Seperti dilansir AFP, Senin (11/9/2017), unjuk rasa untuk mendukung Rohingya ini digelar di alun-alun kota Saint Petersburg pada Minggu (10/9) waktu setempat. Mobil polisi langsung mengepung alun-alun dan personel kepolisian setempat mengamankan para demonstran.
Demonstran di Saint Petersburg, Rusia berdebat dengan polisi dalam aksi mereka Foto: REUTERS/Anton Vaganov |
Seorang koresponden AFP yang ada di lokasi unjuk rasa menyebut, ada lebih dari 100 demonstran yang ditangkap kepolisian Rusia. Penangkapan dilakukan karena unjuk rasa itu tidak mendapat izin resmi dari otoritas setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa kami tidak bisa mengekspresikan diri kami sendiri. Kami khawatir soal apa yang terjadi pada saudara-saudara kami di Myanmar," keluh demonstran lainnya, Makhmud (45).
Penderitaan dan penindasan yang dialami minoritas Rohingya di Myanmar telah memicu aksi protes warga muslim Rusia di beberapa wilayah, terutama setelah seruan dari tokoh kuat Chechnya, Ramzan Kadyrov.
Ribuan orang menggelar aksi di kota Grozny, Chechnya, pekan lalu, setelah Kadyrov menyerukan kepada otoritas RUsia untuk membantu mengakhiri 'pertumpahan darah' di Myanmar. Seruan Kadyrov ini tergolong langka dari orasi-orasi publiknya yang selama ini cenderung mendukung Presiden Vladimir Puitn.
Demonstran di Saint Petersburg, Rusia berdebat dengan polisi dalam aksi mereka Foto: REUTERS/Anton Vaganov |
Otoritas Rusia sendiri tidak banyak bersuara soal krisis Rohingya di Myanmar. Rusia dan Myanmar merupakan sekutu yang sama-sama menandatangani kerja sama militer tahun lalu. Rusia telah mengekspor pesawat militer dan artileri ke Myanmar.
"Kita berhadapan dengan semacam kekerasan," jawab Putin saat ditanya soal seruan Kadyrov dalam isu Rohingya, sembari menambahkan bahwa "Setiap orang memiliki hak untuk menyatakan pendapatnya terlepas apapun jabatannya."
(nvc/imk)












































Demonstran di Saint Petersburg, Rusia berdebat dengan polisi dalam aksi mereka Foto: REUTERS/Anton Vaganov
Demonstran di Saint Petersburg, Rusia berdebat dengan polisi dalam aksi mereka Foto: REUTERS/Anton Vaganov