DetikNews
Senin 11 September 2017, 16:37 WIB

Polisi Rusia Tahan 100 Demonstran Pendukung Rohingya

Novi Christiastuti - detikNews
Polisi Rusia Tahan 100 Demonstran Pendukung Rohingya Demonstran Rusia ditangkap usai ikut unjuk rasa mendukung Rohingya (REUTERS/Anton Vaganov)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Moskow - Sekitar 200 orang di Saint Petersburg, Rusia, ikut serta dalam unjuk rasa untuk mendukung etnis minoritas muslim Rohingya. Separuh di antaranya, atau sekitar 100-an orang, akhirnya ditangkap polisi Rusia.

Seperti dilansir AFP, Senin (11/9/2017), unjuk rasa untuk mendukung Rohingya ini digelar di alun-alun kota Saint Petersburg pada Minggu (10/9) waktu setempat. Mobil polisi langsung mengepung alun-alun dan personel kepolisian setempat mengamankan para demonstran.

Demonstran di Saint Petersburg, Rusia berdebat dengan polisi dalam aksi merekaDemonstran di Saint Petersburg, Rusia berdebat dengan polisi dalam aksi mereka Foto: REUTERS/Anton Vaganov

Seorang koresponden AFP yang ada di lokasi unjuk rasa menyebut, ada lebih dari 100 demonstran yang ditangkap kepolisian Rusia. Penangkapan dilakukan karena unjuk rasa itu tidak mendapat izin resmi dari otoritas setempat.

"Saudara-saudara kami ditahan! Kenapa muslim selalu disalahkan, kenapa mereka menahan kami?" teriak salah satu demonstran.

"Kenapa kami tidak bisa mengekspresikan diri kami sendiri. Kami khawatir soal apa yang terjadi pada saudara-saudara kami di Myanmar," keluh demonstran lainnya, Makhmud (45).


Penderitaan dan penindasan yang dialami minoritas Rohingya di Myanmar telah memicu aksi protes warga muslim Rusia di beberapa wilayah, terutama setelah seruan dari tokoh kuat Chechnya, Ramzan Kadyrov.

Ribuan orang menggelar aksi di kota Grozny, Chechnya, pekan lalu, setelah Kadyrov menyerukan kepada otoritas RUsia untuk membantu mengakhiri 'pertumpahan darah' di Myanmar. Seruan Kadyrov ini tergolong langka dari orasi-orasi publiknya yang selama ini cenderung mendukung Presiden Vladimir Puitn.

Demonstran di Saint Petersburg, Rusia berdebat dengan polisi dalam aksi merekaDemonstran di Saint Petersburg, Rusia berdebat dengan polisi dalam aksi mereka Foto: REUTERS/Anton Vaganov

Otoritas Rusia sendiri tidak banyak bersuara soal krisis Rohingya di Myanmar. Rusia dan Myanmar merupakan sekutu yang sama-sama menandatangani kerja sama militer tahun lalu. Rusia telah mengekspor pesawat militer dan artileri ke Myanmar.

"Kita berhadapan dengan semacam kekerasan," jawab Putin saat ditanya soal seruan Kadyrov dalam isu Rohingya, sembari menambahkan bahwa "Setiap orang memiliki hak untuk menyatakan pendapatnya terlepas apapun jabatannya."


(nvc/imk)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed