DetikNews
Jumat 08 September 2017, 15:04 WIB

Mayoritas Warga Korsel Yakin Korut Tak Akan Memulai Perang

Novi Christiastuti - detikNews
Mayoritas Warga Korsel Yakin Korut Tak Akan Memulai Perang Warga Korsel menonton berita uji coba nuklir Korut pada 3 September lalu (Han Jong-Chan/Yonhap/via REUTERS)
Seoul - Ketegangan di Semenanjung Korea yang dipicu ancaman nuklir Korea Utara (Korut) dikhawatirkan akan mengarah ke perang, terutama dengan Korea Selatan (Korsel), negara tetangga Korut. Namun mayoritas warga Korsel meragukan perang akan sungguh terjadi.

Survei terbaru Gallup Korea, seperti dilansir Reuters, Jumat (8/9/2017), menunjukkan 58 persen warga Korsel menganggap bahwa tidak mungkin Korut akan memulai perang. Sedangkan 37 persen lainnya merasa yakin Korut akan memulai perang di Semenanjung Korea.

Gallup Korea mulai menanyai warga Korsel sejak tahun 1992, dengan pertanyaan apakah mereka yakin Korut akan memulai perang.


Sebelumnya dalam polling serupa yang pertama pada tahun 1992, sebanyak 69 persen responden berpikir Korut akan memulai perang dan 24 persen responden berpikir perang tidak akan terjadi.

Survei terbaru Gallup Korea ini menunjukkan kebanyakan warga Korsel saat ini, tidak terlalu mengkhawatirkan perang. Kekhawatiran warga Korsel saat ini sangat berbeda jika dibandingkan dalam survei pada Juni 2007, yang dirilis sekitar 9 bulan setelah Korut pertama kali melakukan uji coba nuklir.

Dalam survei tahun 2007, sebanyak 51 persen warga Korsel memperkirakan akan terjadi perang dengan Korut, sedangkan 45 persen responden lainnya tidak yakin perang akan terjadi.

[Gambas:Video 20detik]


Korut selama ini menyatakan pihaknya perlu mengembangkan senjata untuk melindungi diri dari agresi Amerika Serikat (AS). Mengabaikan sanksi dan kecaman dunia, negara komunis ini terus mengejar ambisi nuklir dan rudalnya. Terlepas dari begitu dahsyatnya retorika Korut, mayoritas warga Korsel cenderung tenang dan tetap menjalani hidup tanpa ada kepanikan sedikitpun.

"Hasil survei ini menunjukkan warga Korea Selatan telah mulai terbiasa dengan ancaman provokasi yang berulang-ulang setelah lebih dari 60 tahun hidup dalam situasi gencatan senjata," ucap Gallup Korea dalam pernyataannya. Korsel dan AS secara teknis masih berperang dengan Korut, setelah perang Korea tahun 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata dan bukan perjanjian damai.

Survei Gallup Korea ini digelar terhadap 1.004 warga Korsel yang berusia 19 tahun ke atas, via wawancara telepon, antara 5-7 September. Margin of error survei ini sekitar kurang lebih 3,1 persen.


Dalam survei yang sama, sebanyak 60 persen responden meyakini Korsel juga harus mempersenjatai diri dengan nuklir, sedangkan 35 persen responden lainnya tidak setuju. Responden berusia 20-an tahun menentang senjata nuklir, namun responden berusia 50 tahun ke atas menilai Korsel harus memiliki senjata nuklir.

Survei Gallup Korea ini juga menyatakan sebanyak 59 persen responden tidak setuju dengan gagasan AS menyerang Korut terlebih dahulu, jika ancaman terus berlanjut. Sedangkan 33 persen responden lainnya menyatakan AS harus menyerang Korut terlebih dulu.


(nvc/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed