DetikNews
Selasa 05 September 2017, 18:19 WIB

Krisis Rohingya

Kekayaan Rakhine, Kota 'Rohingya' yang Tersandera Konflik

Erwin Dariyanto - detikNews
Kekayaan Rakhine, Kota Rohingya yang Tersandera Konflik Gelombang pengungsian Muslim Rohingya (Foto: Reuters)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Jakarta - Berbagai spekulasi muncul atas aksi militer Myanmar mengusir Muslim Rohingya dari Rakhine. Mulai dari adanya motif bisnis minyak dan gas, pelabuhan internasional hingga zona industri.

Seperti apa sebenarnya kekayaan Rakhine?

Negara bagian Rakhine kaya akan sumber daya alam, antara lain cadangan minyak dan gas bumi. Wilayah ini juga memiliki sungai, danau dan laut yang terhubung langsung dengan samudera luas. Hal ini menyebabkan prospek bisnis di Rakhine cukup potensial.

Begitulah hasil kajian dari sejumlah lembaga ekonomi dan riset Komisi Penasihat untuk Rakhine pimpinan mantan Sekjen PBB Kofi Annan. Dikutip dari consult-myanmar[dot]com, di Rakhine ada sejumlah potensi bisnis yang bisa dikembangkan.

Di bidang infrastruktur, tahun ini pembangunan pelabuhan Sittway oleh investor dari India ditargetkan rampung. Pelabuhan ini melayani rute Sittway-Paletwa dan Sittway-Kolkata.

Ada juga pembangunan jalan raya yang menghubungkan tiga negara yakni India-Myanmar-Thailand. Jalan dibangun dari Mizoram di India hingga Paletwa yang akan mendukung pembangunan di Rakhine State dan Chin State. Investasi dan perdagangan asing di Rakhine akan meningkat pesat saat proyek multi-modal Kaladan terintegrasi dengan jalan raya tiga negara yang menghubungkan Moreh di India ke Measot di Thailand melalui Mandaly dan Yangon.

Tak jauh dari ibu kota Rakhine yakni Sittway ada kota Ponnagyun yang akan jadi zona industri. Saat ini pembangunan Zona Industri Ponnagyun seluas 1.833,15 hektar tengah berlangsung. Lokasinya persis di samping jalan raya yang menghubungkan Yangon-Sittway.

Rencananya di Zona Industri Ponnagyun nanti akan dibangun aneka pabrik mulai dari tekstil, elektrik, makanan dan arena pameran. Sejumlah investor asing akan menanamkan modalnya di sini. Di kawasan ini juga akan dibangun kereta cepat.

Adapun di Kyaukpyu akan ditetapkan sebagai Zona Ekonomi Spesial (Special Economic Zone/SEZ) yang diperkirakan bisa menyerap 200 ribu tenaga kerja lokal. Selain itu ada juga pembangunan pelabuhan laut Kyaukpyu yang nantinya mampu menyerap 100 ribu tenaga kerja.

Di bidang perdagangan, Rakhine melakukan hubungan dagang dengan sejumlah negara termasuk Bangladesh. Sejumlah barang ekspor Rakhine antara lain ikan segar dan ikan basah, produk agriculture serta bahan makanan. Ekspor ikan segar dan ikan basah ke sejumlah negara selama tahun fiskal 2016-2017 transaksinya mencapai US$ 3,224 juta

Di sektor energi, berdasar data Forbes, Rakhine memiliki kandungan cadangan minyak dan gas sebesar 11 triliun dan 23 triliun kaki kubik. Rakhine memiliki sejumlah ladang gas lepas pantai. Ada juga eksplorasi minyak lepas pantai.

Kekayaan Rakhine, Kota 'Rohingya' yang Tersandera KonflikFoto: Infografis: Andhika Akbaryansyah/detikcom


Sejumlah perusahaan tambang migas pun tercatat sudah menanamkan modalnya di Rakhine. Misalnya Statoil Myanmar Private Limited and Conoco Phillips Myanmar E&P Pte. Ltd menginvestasikan US$ 323,65 juta untuk eksplorasi dan produksi minyak dan gas di Rakhine.

Ada juga Woodside Energy (Myanmar) Pte. Ltd., and BG Exploration & Production Myanmar Pte. Ltd yang menginvestasikan dana sebesar US$ 290,1 juta untuk eksplorasi dan produksi gas di ladang lepas pantai Rakhine.

Selama tahun fiskal 2016-2017 investasi di sektor energi di Rakhine mencapai US$ 10 miliar. Ada 27 proyek sektor energi di Myanmar yang masing-masing nilainya bisa mencapai US$ 10,26 juta.

Komisi Penasihat untuk Rakhine pimpinan Kofi Annan mengakui adanya potensi ekonomi yang cukup bagus di Rakhine. Namun adanya konflik komunal berkepanjangan dengan pemerintah pusat telah menghambat laju pembangunan di Rakhine.

Dikutip dari laporan Komisi Penasihat untuk Rakhine yang dipublikasikan Agustus kemarin, saat ini Rakhine mengalami krisis pembangunan. Indikasinya hampir di semua wilayah di Rakhine terjadi kemiskinan kronis, masyarakat menderita dan tertinggal .

"Konflik yang berkepanjangan, kepemilikan lahan yang tidak aman dan kurangnya peluang mata pencaharian telah mengakibatkan migrasi yang signifikan keluar dari negara (Rakhine) yang mengurangi ukuran angkatan kerja dan menghambat prospek pembangunan serta pertumbuhan ekonomi," bunyi laporan Komisi Penasihat untuk Rakhine yang dikutip detikcom, Selasa (5/9/2017).

Masih menurut laporan tersebut, meski Rakhine kaya akan sumber daya alam, memiliki industri kreatif yang berkembang dan besarnya investasi di bidang Migas, namun semua itu belum mampu menyerap tenaga kerja lokal serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

"Persepsi internasional atas Rakhine saat ini sebagai daerah konflik dan sering terjadi pelanggaran HAM telah menghambat investor asing," tulis laporan Komisi Penasihat untuk Rakhine.


(erd/jat)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed