DetikNews
Senin 28 Agustus 2017, 14:27 WIB

Duterte: Polisi Bebas Bunuh 'Idiot' yang Melawan Saat Ditangkap

Novi Christiastuti - detikNews
Duterte: Polisi Bebas Bunuh Idiot yang Melawan Saat Ditangkap Rodrigo Duterte (REUTERS/Ezra Acayan/File Photo)
Manila - Presiden Filipina Rodrigo Duterte geram atas protes warga terhadap kebijakan antinarkoba yang digaungkannya. Dia menyerukan polisi membunuh para 'idiot' yang menolak ditangkap. Hal ini disampaikan setelah ratusan orang memprotes kebijakan perang melawan narkoba, yang baru saja menewaskan seorang remaja berusia 17 tahun.

Seperti dilansir Reuters, Senin (28/8/2017), seruan itu disampaikan Duterte saat berpidato di Taman Makam Pahlawan di pinggiran Manila. Duterte menyampaikan komentar itu secara spontan untuk Kepala Kepolisian setempat, Jovie Espenido.

"Tugas Anda mengharuskan Anda untuk mengatasi perlawanan orang yang Anda tangkap... (jika) dia melawan, dan perlawanannya diwarnai kekerasan... Anda bebas untuk membunuh idiot itu, itu perintah saya untuk Anda," tegas Duterte kepada sang polisi.

Namun Duterte menambahkan 'tindak pembunuhan dan pembunuhan di luar hukum' tidak diperbolehkan. Kepolisian setempat memiliki kewajiban untuk menegakkan hukum saat menjalankan tugasnya.

Duterte mulai memberlakukan kebijakan antinarkoba sesaat setelah dirinya menjabat Presiden Filipina pada Juni 2016. Pemberlakuan itu mewujudkan janji kampanyenya untuk memerangi kejahatan dan narkoba.


Ribuan orang tewas dalam perang melawan narkoba yang digaungkan Duterte di Filipina. Namun dalam praktiknya, kampanye melawan narkoba itu mendapat banyak kritikan dari dunia internasional.

Perlawanan domestik terhadap kebijakan perang melawan narkoba tidak terlalu terdengar. Hingga seorang remaja laki-laki bernama Kian Loyd delos Santos yang baru berusia 17 tahun tewas di tangan polisi antinarkoba Filipina pada 16 Agustus lalu.

Kian yang dituduh terlibat perdagangan narkoba dan menolak untuk ditangkap, diseret oleh polisi yang berpakaian bebas dan dibawa ke sebuah gang gelap di Manila sebelum dia ditembak mati di kepala. Jasadnya diletakkan begitu saja di dekat kandang babi.

Kemarahan publik pun muncul dan protes untuk kebijakan antinarkoba Duterte banyak digaungkan. Lebih dari 1.000 orang termasuk para biarawati, pastur dan ratusan anak-anak hadir dalam upacara pemakaman Kian pada Sabtu (26/8) lalu.

Upacara pemakaman itu kemudian berubah menjadi aksi long march yang tercatat sebagai aksi protes terbesar di Filipina untuk kampanye antinarkoba Duterte.


(nvc/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed