Menurut kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, 9 perempuan dan 14 anak-anak telah tewas dalam serangan udara koalisi AS di kota Raqqa sejak Senin (7/8) waktu setempat. Mereka termasuk di antara 29 warga sipil yang tewas dalam serangan udara koalisi di Raqqa.
Disebutkan Observatory seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (9/8/2017), 14 orang dari korban tewas tersebut berasal dari satu keluarga. Jumlah korban jiwa ini masih bisa bertambah mengingat sejumlah orang yang terluka saat ini dalam kondisi kritis.
Pada Selasa (8/8) waktu setempat, operasi udara yang dilancarkan koalisi AS untuk memerangi ISIS di Suriah dan Irak telah memasuki tahun keempat setelah dimulai pada tahun 2014.
Saat itu, tepatnya pada 8 Agustus 2014, dua jet tempur FA-18 diluncurkan dari atas kapal induk USS George W. Bush di kawasan Teluk dan menjatuhkan bom-bom terhadap para militan ISIS di dekat Arbil, Irak utara. Serangan itu menandai dimulainya gempuran udara yang intens, yang kemudian ditambah dengan pelatihan dan pemberian senjata pada kelompok-kelompok lokal untuk memerangi ISIS, pertama di Irak dan kemudian di Suriah.
Nama ISIS terangkat ke permukaan pada awal tahun 2014 saat kelompok teroris itu menyerang wilayah Irak utara dan Suriah, menguasai kota-kota besar termasuk Mosul dan Raqqa dan melakukan pembantaian dan kekejian lainnya.
Koalisi internasional anti-ISIS yang dipimpin AS tersebut terdiri dari 69 negara, meski hanya sejumlah negara yang berpartisipasi langsung dalam serangan-serangan udara atau misi pelatihan. Koalisi AS mengakui serangan-serangan udaranya telah menewaskan 624 warga sipil sejauh ini, meski menurut para pengamat, angka sebenarnya jauh lebih tinggi dari itu. (ita/ita)











































