DetikNews
Minggu 06 Agustus 2017, 15:00 WIB

72 Tahun Bom Hiroshima, Jepang Tolak atau Dukung Senjata Nuklir?

Danu Damarjati - detikNews
72 Tahun Bom Hiroshima, Jepang Tolak atau Dukung Senjata Nuklir? Ilustrasi ledakan bom atom di Hiroshima (Istimewa/Reuters)
Hiroshima - Jepang memperingati 72 tahun serangan bom nuklir di Hiroshima. Perayaan ini digelar dalam suasana yang kontradiktif terkait sikap Jepang, menolak ataukah mendukung keberadaan senjata nuklir.

Dilansir AFP, Minggu (6/8/2017), peringatan ini digelar tak lama setelah Jepang duduk bersama dengan negara-negara yang mempunyai senjata nuklir, termasuk Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis.



Pertemuan bulan lalu itu digelar untuk membubarkan perjanjian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang melarang senjata atomis. Wacana pembubaran perjanjian itu dikritik banyak pihak karena dianggap tak memperhatikan isu ancaman dari Korea Utara.

Baca juga: AS dan Sekutu Boikot Pertemuan PBB Soal Larangan Senjata Nuklir

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berbicara di Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima dekat 'ground zero'. Dalam sambutan acara ini, Abe menyampaikan harapan agar dunia bisa bebas senjata nuklir lewat persetujuan semua negara.

"Untuk kita demi usaha menciptakan dunia tanpa senjata nuklir, kita butuh partisipasi baik dari negara yang punya senjata nuklir maupun negara yang tidak punya senjata nuklir," ujar Abe tanpa merujuk secara langsung ke perjanjian PBB yang masih hangat diperbincangkan itu.

"Negara ini berkomitmen memimpin masyarakat internasional untuk mendorong semua pihak," kata dia. Pejabat pemerintahan Jepang telah mengkritisi Perjanjian PBB tentang Senjata Nuklir yang memperlebar perbedaan antara negara yang punya dan yang tak punya senjata nuklir. Dulu, dalam pembahasan perjanjian itu, tak ada satupun dari sembilan negara bernuklir yang ikut dalam voting.

Pemerintah Jepang secara rutin mengemukakan bahwa mereka membenci senjata nuklir. Namun pertahanan nasional negara ini telah diatur di bawah payung nuklir Amerika Serikat (AS).

Jepang adalah satu-satunya negara yang mengalami serangan bom atom pada 1945. Ada dua serangan nuklir di pengujung Perang Dunia II. Pihak penyerangnya adalah AS, bom nuklir dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan di Nagasaki pada tiga hari kemudian.

Bom itu menewaskan 140 ribu manusia di Hiroshima dan 74 ribu orang di Nagasaki. Beberapa dari mereka tewas seketika, namun sebagian mati karena cidera atau radiasi terkait nuklir. Orang yang terkena radiasi itu meninggal beberapa bulan atau beberapa tahun setelah serangan bom.

Jepang menyerah di Perang Dunia II pada 15 Agustus 1945. Banyak orang Jepang menganggap serangan Amerika tahun 1945 itu sebagai kejahatan perang dan bentuk kekejaman. Soalnya, yang jadi korban adalah orang sipil, terlebih lagi dampak yang sangat destruktif akibat serangan itu.

Namun banyak warga AS percaya serangan bom atom itu mempercepat penghentian konflik berdarah dan menyelamatkan lebih banyak orang. Maka, dengan penalaran seperti itu, warga AS banyak yang menyepakati aksi pemboman itu. Barack Obama menjadi Presiden AS pertama yang mengunjungi Hiroshima pada Mei, tahun lalu.


(dnu/imk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed