Kisah Wanita Rohingya Diperkosa Saat Hamil Lalu Ditinggal Suami

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 26 Jul 2017 12:46 WIB
Foto: Luthfy Syahban
Yangon - Sudah jatuh tertimpa tangga. Seperti itulah yang dialami wanita Rohingya di Myanmar ini. Dia diperkosa secara bergiliran oleh beberapa tentara Myanmar saat dirinya sedang hamil tua dan setelah itu, suaminya meninggalkan dirinya dan menikah dengan wanita lain.

Ayamar Bagon, termasuk di antara wanita-wanita Rohingya lainnya yang mengaku telah menjadi menjadi korban pemerkosaan tentara Myanmar saat "operasi pembersihan militan" di negara bagian Rakhine beberapa waktu lalu.

"Saya diperkosa berdekatan dengan waktu persalinan saya, saat kehamilan saya sudah 9 bulan. Mereka tahu saya hamil tapi tidak peduli," tutur Ayamar Bagon seperti dikutip kantor berita AFP, Rabu (26/7/2017). Bagon termasuk di antara sekelompok wanita di desa Kyar Gaung Taung, di Rakhine yang mengaku telah diperkosa tentara-tentara Myanmar saat operasi militer tahun 2016 lalu.

"Suami saya menyalahkan saya atas pemerkosaan itu. Dikarenakan hal ini, dia menikahi wanita lain dan sekarang tinggal di desa lain," imbuh wanita berumur 20 tahun itu. Dikatakannya, dirinya bertahan hidup dengan sumbangan makanan dari para tetangga.

Hal senada diungkapkan Hasinnar Baygon (20), seorang ibu dengan dua anak. Dikatakannya, suaminya juga sempat mengancam akan meninggalkan dirinya setelah dia diperkosa tiga tentara pada Desember 2016 lalu.

Menurutnya, ketiga tentara memperkosa dirinya secara bergantian. Baygon mengatakan dirinya yakin ketiga pemerkosanya adalah tentara karena seragam yang mereka pakai dan senjata api mereka.

"Suami saya bilang bahwa dia akan meninggalkan saya. Dia menyalahkan saya karena tidak kabur," tutur Baygon kepada AFP.

Militer Myanmar melakukan operasi besar-besaran di Rakhine pada Oktober 2016 lalu. Operasi tersebut bertujuan menangkap para militan usai serangan mematikan ke pos-pos polisi Myanmar yang dilakukan para militan. Selama operasi yang berlangsung hingga November 2016 itu, tentara-tentara Myanmar dituduh telah melakukan penganiayaan, pemerkosaan, pembakaran rumah dan pembunuhan ratusan warga muslim Rohingya.

Pemerintah Myanmar membantah nyaris semua tuduhan tersebut. Pemerintah Myanmar juga melarang tim pencari fakta PBB untuk melakukan penyelidikan di wilayah Rakhine. Ditegaskan bahwa penyelidikan militer dan kepolisian serta tim yang ditunjuk pemerintah Myanmar sudah cukup.

"Kasus-kasus telah diajukan terkait pembunuhan, setelah penyelidikan. Mereka juga tengah menyelidiki tuduhan pemerkosaan," ujar Brigadir Jenderal San Lwin, kepala kepolisian perbatasan di negara bagian Rakhine. Ditambahkannya, penyelidikan masih berlangsung hingga saat ini. (ita/ita)