"Pasukan terkejut oleh demonstrasi dari sejumlah pelanggar, yang menyerang pasukan dengan menembakkan senapan burung dan melempar batu, yang kwmudian membuat pasukan menembakkan gas air mata untuk membubarkan para demonstran dan mengendalikan situasi," kata sebuah pernyataan dari kepolisian setempat seperti dikutip dari Reuters, Senin (17/7/2017).
Sedikitnya 37 polisi dan 19 penduduk terluka dalam bentrokan tersebut. Satu orang bernama Syed Tafsan dilaporkan tewas atas kejadian ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu penduduk setempat berkeras tak akan meninggalkan pulau di Nil itu. Mereka mengaku telah membangun rumah di sana selama 30 tahun.
"Kami lahir di pulau ini, kami telah membuktikan kepemilikan, orang tua kami lahir di sini. Mereka (pemerintah) mau berikan lahan ini ke Emirat untuk dibangun hotel," kata seorang tukang daging bernama Marzouk Hany (20) saat menghadiri pemakaman orang yang tewas dalam bentrokan tersebut.
Pada bulan Mei, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menyatakan akan menghancurkan ribuan bangunan yang diduga dibangun secara ilegal di atas tanah negara. "Ada pulau di Nil, berdasarkan hukum, tak ada yang boleh tinggal di pulau-pulau ini," kata al-Sisi dalam pidatonya di bulan Juni.
Ada 90 ribu warga yang tinggal di Pulau al-Warraq. Data itu disebutkan oleh mantan anggota parlemen Giza (wilayah yang menaungi pulau di Nil), Mahmoud Jaffar Salman. (bag/bag)











































