DetikNews
Jumat 14 Juli 2017, 16:45 WIB

Berdamai Demi Gulingkan Najib, Mahathir-Anwar Pimpin Koalisi Baru

Rita Uli Hutapea - detikNews
Berdamai Demi Gulingkan Najib, Mahathir-Anwar Pimpin Koalisi Baru Logo partai Pakatan Harapan (Foto: Free Malaysia Today)
Kuala Lumpur - Dua figur di Malaysia yang dulunya musuh bebuyutan, kini berdamai dalam sebuah partai koalisi baru. Keduanya kini menjadi pemimpin koalisi partai-partai oposisi, yang bernama Pakatan Harapan.

Mantan perdana menteri Mahathir Mohamad diangkat sebagai ketua umum, sedangkan Anwar Ibrahim menjadi pemimpin Pakatan Harapan. Dalam statemen bersama yang dibacakan Mahathir seperti dilansir media Free Malaysia Today, Jumat (14/7/2017), istri Anwar, Dr Wan Azizah Wan Ismail ditunjuk sebagai presiden koalisi baru tersebut.

Pengumuman ini disampaikan setelah sebulan terakhir ramai spekulasi mengenai kepemimpinan koalisi baru tersebut. Pakatan Harapan merupakan koalisi empat partai oposisi yang terdiri dari Partai Keadilan Rakyat (PKR) di mana Anwar sebagai pemimpin de facto, Partai Pribumi Bersatu Malaysia pimpinan Mahathir, Amanah, dan Partai Aksi Demokratis (DAP).

Koalisi ini memiliki satu tujuan, yakni menggulingkan Perdana Menteri Najib Razak yang dituduh korup dan dominasi partainya, Organisasi Nasional Malaysia Bersatu atau UMNO dalam pemilu tahun depan. PM Najib saat ini sedang diperiksa terkait kasus penyuapan dan penyimpangan dana senilai jutaan dolar AS terkait dana investasi milik negara yang dikelola oleh perusahaan 1Malaysia Pengembangan Berhad (1MDB).

Di depan para wartawan, Mahathir juga mengumumkan logo koalisi yang bertuliskan "Harapan" berlatar belakang warna merah. Dikatakan Mahathir, koalisi tersebut akan didaftarkan secepat mungkin.

"Kurang dari sepekan, besok jika itu terserah pada saya," tutur Mahathir.

Dikatakan Mahathir, koalisi tersebut juga akan mengajukan permintaan untuk mendapatkan pengampunan kerajaan bagi Anwar, agar mencabut larangan bagi Anwar aktif di dunia politik. Seperti diketahui, Anwar kini mendekam di penjara karena kasus sodomi.

Ketika ditanya wartawan apakah Anwar merupakan pilihan koalisi untuk menjadi perdana menteri, Mahathir menjawab bahwa Anwar masih harus melewati banyak hambatan.

Mahathir dan Anwar merupakan musuh bebuyutan selama hampir 20 tahun. Kedua tokoh politik yang pernah bersama-sama memerintah itu terlibat permusuhan sengit selama 18 tahun, ketika Mahathir masih berada di puncak kekuasaan. Pada tahun 1998 Mahathir memecat wakilnya, Anwar yang dianggap telah berani terang-terangan menentang politiknya.

Sinyal rekonsiliasi keduanya sudah terlihat berbulan-bulan lalu. Sampai akhirnya Anwar setuju mendukung gerakan politik Pakatan Harapan yang diprakarsai Mahathir untuk melawan PM Najib.

Di bawah pemerintahan PM Najib, Anwar Ibrahim divonis lima tahun penjara pada tahun 2013 atas tuduhan melakukan sodomi. Ini merupakan tuduhan kedua yang dijeratkan padanya sehingga dia meringkuk di penjara. Sebelumnya pada akhir 1990-an, Perdana Menteri saat itu, Mahathir Mohamad, memecat wakilnya, Anwar Ibrahim dengan tuduhan yang sama. Mahathir lengser pada tahun 2003 setelah memerintah selama lebih dari 20 tahun.



(ita/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed