AS Sukses Uji Coba Sistem Pertahanan Rudal Canggih THAAD

AS Sukses Uji Coba Sistem Pertahanan Rudal Canggih THAAD

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 11 Jul 2017 18:39 WIB
AS Sukses Uji Coba Sistem Pertahanan Rudal Canggih THAAD
Ilustrasi sistem pertahanan rudal THAAD milik AS (Lee Jong-hyeon/News1 via REUTERS)
Washington DC - Amerika Serikat (AS) melaporkan keberhasilan menguji coba sistem pertahanan rudal THAAD. Sistem pertahanan canggih itu berhasil menembak jatuh target di atas wilayah Alaska.

Badan Pertahanan Rudal AS (MDA) menyatakan, seperti dilansir CNN, Selasa (11/7/2017), sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) sukses diuji coba pada Selasa (11/7) waktu setempat.

"Saya tidak bisa lebih bangga terhadap pemerintah dan tim kontraktor yang melakukan uji coba hari ini," ucap Direktur MDA, Letnan Jenderal Sam Greaves, dalam pernyataannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Uji coba ini menunjukkan kemampuan sistem persenjataan THAAD dan kecakapannya dalam mencegat dan menghancurkan ancaman rudal balistik," imbuhnya.

Seorang pejabat Departemen Pertahanan AS yang enggan disebut namanya menuturkan kepada CNN, uji coba ini tidak berkaitan dengan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang baru diluncurkan Korut, beberapa hari lalu.

Setiap sistem THAAD memiliki lima komponen utama, yakni pencegat, peluncur, radar, perlengkapan pendukung dan unit kontrol serangan. Lockheed Martin, yang merupakan perusahaan dirgantara dan keamanan ternama, menjadi kontraktor utama atas sistem pertahanan canggih ini.

Sistem pertahanan THAAD dirancang untuk menembak jatuh rudal balistik, baik jarak pendek, menengah maupun menengah atas dengan jangkauan lebih pendek dari rudal ICBM yang diluncurkan Korut pada 4 Juli lalu.

Cara kerja sistem ini adalah, pertama, radar akan mendeteksi rudal yang datang dan mengidentifikasinya sebagai ancaman. Kemudian peluncur yang dipasang pada truk akan menembakkan proyektil, yang disebut sebagai 'interseptor'. Proyektil itu akan menghancurkan rudal yang menjadi target dengan menggunakan energi kinetik, atau kecepatan tinggi. Beberapa pakar menyebutnya bagaikan menembak peluru dengan peluru lain.



(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads