Bercelana Pendek di Bus Saat Ramadan, Mahasiswi Turki Diserang

Bercelana Pendek di Bus Saat Ramadan, Mahasiswi Turki Diserang

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 22 Jun 2017 16:48 WIB
Bercelana Pendek di Bus Saat Ramadan, Mahasiswi Turki Diserang
Ilustrasi (REUTERS/Alkis Konstantinidis)
Istanbul - Seorang mahasiswi di Turki diserang karena memakai celana pendek di dalam bus umum, saat bulan suci Ramadan. Insiden ini memicu kemarahan publik, terutama kalangan aktivis pejuang hak-hak wanita.

Seperti dilansir AFP, Kamis (22/6/2017), mahasiswi bernama Asena Melisa Saglam (21) ini sedang duduk di dalam bus di jalanan Istanbul, ketika seorang pria yang duduk di belakangnya tiba-tiba menampar wajahnya. Insiden yang terjadi 14 Juni lalu ini, terekam CCTV di dalam bus.

Saglam mengejar pria itu, namun mahasiswi ini malah didorong secara kasar. Pria yang tidak diketahui identitasnya itu, lalu bergegas keluar bus. Dalam keterangannya, Salgam menuding pria itu telah melecehkannya sejak awal, dengan menegur Salgam agar tidak seharusnya memakai celana pendek saat bulan Ramadan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari saat saya duduk, dia melontarkan kalimat, 'Anda berpakaian seperti ini saat Ramadan? Anda seharusnya merasa malu untuk berpakaian seperti itu," tutur Saglam menirukan perkataan pria yang menyerangnya, seperti dikutip surat kabar Turki, Hurriyet.

Usai ditegur, Saglam menyebut dirinya memakai headphone dan mengabaikan pria itu. Tapi ketika pria itu berdiri saat akan turun, tiba-tiba Saglam ditampar di wajahnya, tepatnya di dekat rahang.

Pria yang menyerang Salgam itu sempat ditangkap polisi sesaat usai insiden terjadi. Namun akhirnya dibebaskan setelah dia mengaku 'diprovokasi' saat diinterogasi polisi. Pembebasan pria itu memicu kemarahan publik.

"Dibebaskannya penyerang menjadi ancaman bagi seluruh wanita. Kami akan memakai apapun yang kami inginkan saat ada di luar. Kami tidak akan menyerahkan kebebasan kami," demikian pernyataan kelompok hak wanita, We Will Stop Femicide Platform, via Twitter.

Menyusul kemarahan publik, kepolisian setempat merilis surat perintah untuk kembali menangkap pria itu. Belakangan muncul informasi bahwa pria itu telah ditahan sejak Minggu (19/6) atas kasus kejahatan pajak. Tak hanya itu, informasi juga menyebut pria itu tengah diburu polisi terkait kasus narkoba.

Oposisi Presiden Recep Tayyip Erdogan menuding pemerintah Turki tengah memimpin upaya Islamisasi perlahan di Turki, yang dianggap membahayakan prinsip sekuler yang dibangun Mustafa Kemal Ataturk sebagai pendiri dan presiden pertama Turki. Oposisi menyatakan, prinsip sekuler Turki sangat menghormati hak-hak wanita.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads