Seperti dilansir AFP, Rabu (14/6/2017), kepolisian setempat memperingatkan bahwa korban tewas masih bisa bertambah. Hal ini seiring para petugas penyelamat berhasil mencapai wilayah terpencil Chittagong Hills, yang akses transportasi dan jaringan teleponnya terputus.
Menurut Manzurul Mannan, pejabat distrik Rangamati yang terdampak paling parah, sedikitnya 98 orang tewas di wilayahnya. "Korban tewas mungkin akan bertambah," tutur Mannan kepada AFP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Hujan Lebat Tewaskan 46 Orang di Bangladesh |
Kebanyakan korban tewas berasal dari kalangan warga miskin yang tinggal di distrik Rangamati, dekat perbatasan India. Timbunan longsor mengubur ratusan rumah di distrik itu.
Salah satu warga setempat menjelaskan bagaimana tanah di bawah rumahnya bergerak dan bergeser pada malam hari. Warga bergegas berlari keluar rumah saat longsor terjadi dan mengungsi ke rumah-rumah tetangga. "Beberapa keluarga lainnya juga mengungsi ke sana, tapi sesaat setelah fajar, salah satu sisi bukit menimbun rumah. Enam orang masih hilang," tutur Khatiza Begum kepada situs berita lokal, Bangla Tribune.
Kepala kepolisian distrik setempat, Sayed Tariqul Hasan, menyatakan sebagian besar longsor terjadi pada Selasa (13/6) sebelum fajar menyingsing. "Beberapa dari mereka sedang tertidur di dalam rumah di lereng bukit, ketika tanah longsor terjadi," ujarnya.
Ribuan warga yang tinggal di kawasan perbukitan diperintahkan untuk mengungsi. Otoritas setempat telah menyediakan 18 kamp penampungan di distrik-distrik yang terdampak parah. Kepala Departemen Penanggulangan Bencana Bangladesh, Reaz Ahmed, menyatakan tim tanggap bencana telah dikerahkan, namun belum menjangkau seluruh wilayah terdampak.
"Begitu hujan berhenti, kita akan mendapat gambaran penuh soal kerusakan dan bisa memulai upaya pemulihan," tandasnya.
(nvc/ita)











































