"Pada saat ini ... saya tidak melihat ada indikasi bahwa (Presiden Rusia Vladimir) Putin ingin hubungan positif dengan kita. Itu bukan berarti kita tidak bisa mencapainya karena kita mencari kesamaan landasan," ucap Mattis di hadapan Komisi Angkatan Bersenjata Parlemen AS, seperti dilansir Reuters, Selasa (13/6/2017).
"Tapi pada tahap ini, dia (Putin-red) telah memilih untuk kompetitif, menjadi pesaing strategis kita dan kita akan harus menghadapinya sama seperti kita melihatnya," imbuhnya.
Secara terpisah, Kepala Staf Gabungan AS, Joseph Dunford, menambahkan bahwa AS selama ini memiliki hubungan permusuhan dengan Rusia. AS dan Rusia memiliki sejumlah kepentingan berbeda, termasuk dalam konflik Suriah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para Senator AS pada Senin (12/6) waktu setempat menyatakan mereka nyaris mencapai kesepakatan soal sanksi baru untuk Rusia, termasuk provisi yang mencegah Gedung Putih mencabut sanksi tanpa izin Kongres AS.
Selama sepekan, anggota parlemen dari Partai Demokrat dan Partai Republik yang merupakan anggota Komisi Hubungan Internasional dan Perbankan membahas soal amandemen bagi rancangan undang-undang soal sanksi Iran, yang juga akan memberlakukan sanksi terhadap Rusia.
Sanksi untuk Rusia itu terkait berbagai isu, termasuk salah satunya dugaan bahwa Rusia mengintervensi pilpres AS tahun lalu dan dukungan Rusia untuk rezim Presiden Bashar al-Assad dalam konflik Suriah.
(nvc/ita)











































