Seperti dilansir dari kantor berita AFP, Minggu (11/6/2017), oposisi di Venezuela telah menggelar demonstrasi hampir setiap hari sejak 1 April lalu. Setidaknya, ada 66 orang tewas dan lebih dari 1.000 orang terluka akibat demonstrasi.
Pihak oposisi menyalahkan Presiden Nicolas Maduro atas kegagalan ekonomi di negara itu. Maduro sendiri mengatakan krisis di Venezuela akibat konspirasi Amerika Serikat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Baca juga: 200 Ribu Demonstran Kembali Turun ke Jalan-jalan Venezuela)
"Tidak ada cara yang lebih buruk untuk melanggar konstitusi daripada membuat majelis konstituen dengan merebut kekuasaan rakyat," kata anggota parlemen oposisi Tomas Guanipa.
Oposisi di Venezuela turun ke lapangan menentang pemerintahan Maduro Foto: Luis Robayo/AFP |
Demonstran diperkirakan akan melanjutkan perjalanan ke Victoria Avenue, di sebelah barat Caracas, di mana pasukan anti-huru hara melakukan demonstrasi awal dengan gas air mata. Kejadian serupa terjadi di pusat kota, di mana istana kepresidenan Miraflores dan kantor publik utama berada.
Krisis yang terjadi di Venezuela menarik perhatian dunia internasional. Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan ia sangat prihatin dengan kondisi di Venezuela saat ini.
"Kami sangat khawatir. Setidaknya saya, saya sangat prihatin dengan situasi di Venezuela," tutur Merkel dalam jumpa pers dengan Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto. (dkp/dkp)

Oposisi di Venezuela turun ke lapangan menentang pemerintahan Maduro Foto: Luis Robayo/AFP