Seperti dilansir CNN, Jumat (2/6/2017), ini merupakan pertama kalinya Putin membenarkan serangan peretasan terkait pilpres AS yang diduga berasal dari negaranya. Hal ini disampaikan Putin dalam pernyataannya kepada wartawan di sela-sela menghadiri St. Petersburg Economic Forum.
Dalam pernyataannya, Putin menyamakan peretas dengan 'seniman', yang disebutnya bisa saja bertindak atas nama Rusia jika mereka merasa kepentingannya terancam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Senator AS Sebut Putin Sebagai Ancaman Lebih Besar dari ISIS
"Jika mereka patriotik, mereka berkontribusi dengan cara yang mereka pikir benar, untuk berjuang melawan mereka yang berkata buruk soal Rusia," imbuhnya.
Rusia berulang kali menyangkal telah mengintervensi pilpres AS yang digelar November 2016. Ketika ditanya langsung apakah Rusia mengintervensi pilpres AS, Putih menjawab pada Maret lalu: "Baca bibir saya: Tidak." Putin menyebut tudingan AS itu 'fiktif, tidak nyata, provokatif dan bohong'.
Dalam wawancara pada Kamis (1/6) waktu setempat, Putin kembali menegaskan pemerintah Rusia tidak mendalangi serangan peretasan itu. Dia menyebut, peretasan dari mana saja bisa membuat aksi mereka seperti berasal dari otoritas negara tertentu.
"Hal paling penting adalah kami tidak melakukannya pada level pemerintahan. Kedua, saya bisa membayangkan bahwa beberapa (peretas) secara sengaja melakukannya, membangun jaringan serangan dengan cara yang membuatnya tampak seperti Rusia yang menjadi sumber serangan ini. Teknologi modern memungkinkan hal itu secara mudah," ujarnya.
Baca juga: FBI Soroti Menantu Trump Terkait Investigasi Rusia
Terakhir, Putin menyebut, meskipun para peretas mencampuri pilpres negara lain, kemungkinan besar mereka tidak bisa mempengaruhi hasilnya. "Tidak ada peretas yang bisa mempengaruhi kampanye pilpres di negara manapun, baik di Eropa, Asia maupun Amerika," tandasnya.
Pada Oktober 2016, pemerintah AS mengumumkan ke publik soal keyakinannya bahwa Rusia mendalangi peretasan terhadap Komisi Nasional Partai Demokrat (DNC) dan berbagai organisasi politik Partai Demokrat lainnya menjelang pilpres. Kemudian pada Januari, beberapa hari sebelum Presiden AS Donald Trump resmi menjabat, komunitas intelijen AS menyimpulkan Putin telah memerintahkan operasi khusus untuk mempengaruhi pilpres AS.
(nvc/ita)











































