Seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (31/5/2017), helikopter-helikopter militer Filipina hari ini menembakkan roket-roket berulang kali ke kantung-kantung di Marawi, tempat para militan bersembunyi di antara warga setempat yang terjebak.
Pertempuran antara pasukan militer Filipina dengan kelompok pemberontak Maute telah pecah sejak Selasa (23/5) pekan lalu ketika militan Maute mengibarkan bendera ISIS sebagai respons atas operasi militer untuk menangkap pemimpin militan, Isnilon Hapilon, warga Filipina yang masuk dalam daftar teroris paling diburu Amerika Serikat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Padilla, militer membuat kemajuan "sangat positif" untuk mengakhiri krisis di Marawi. Selama pertempuran di Marawi tersebut, 21 personel militer Filipina dan 19 warga sipil juga tewas.
Diakui Padilla, masih banyak warga yang terjebak di sekitar 10 persen wilayah Marawi yang masih dikuasai militan. Pasukan militer diyakini akan mendapat perlawanan sengit di wilayah-wilayah tersebut.
"10 persen tersebut adalah wilayah yang sangat dijaga ketat dan dibela oleh pria-pria bersenjata jika mereka melindungi individu bernilai tinggi," ujar Padilla yang mengaku tidak tahu berapa jumlah militan Maute yang masih ada di Marawi.
Saat ini masih ada sekitar 2 ribu warga yang terjebak di wilayah-wilayah Marawi yang dikuasai militan Maute. Para militan juga masih menyandera seorang pendeta dan 14 orang lainnya.
Presiden Rodrigo Duterte telah memberlakukan hukum darurat militer di seluruh wilayah Mindanao sebagai respons atas krisis di Marawi. Dikatakan Duterte, kekerasan di Marawi menunjukkan bahwa kelompok-kelompok militan lokal bersatu di belakang ISIS dan menjadi ancaman keamanan besar di seluruh Mindanao.
(ita/ita)











































