"Kita tak bisa membiarkan orang gila dengan senjata nuklir berkeliaran seperti itu. Kita punya banyak senjata, lebih banyak dari yang dia punya, 20 kali lipat β namun kita tak ingin menggunakan itu," ujar Trump menurut transkrip percakapan yang dirilis media AS seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (24/5/2017).
Sebelumnya, Gedung Putih menyebut percakapan Trump dengan Duterte pada 29 April itu sebagai "percakapan yang sangat ramah." Beberapa hari setelah percakapan via telepon tersebut, Trump secara terbuka mengatakan dirinya akan merasa terhomat untuk bertemu Kim. Namun dalam percakapan itu, Trump mengisyaratkan kemungkinan eskalasi dramatis di Semenanjung Korea.
Transkrip percakapan Trump dan Duterte tersebut dirilis oleh The Washington Post dan The Intercept pada Selasa (23/5) waktu setempat. Dalam percakapan tersebut, Trump juga menanyakan pada Duterte apakah dia yakin Kim stabil atau tidak stabil. Pemimpin Filipina itu pun menjawab bahwa "otak Kim tak berfungsi dan dia mungkin menjadi gila pada suatu ketika."
"Kim punya mainan berbahaya di tangannya yang bisa menimbulkan penderitaan begitu besar bagi semua umat manusia," tutur Duterte menurut transkrip tersebut.
Trump mengakhiri percakapan itu dengan mengundang Duterte untuk datang ke Gedung Putih kapanpun dia mau. Trump pun menyebut Duterte "orang baik". (ita/ita)











































