Pemilu ini semakin menambah ketegangan antara Fatah yang menaungi Presiden Mahmud Abbas dengan Hamas yang menguasai Jalur Gaza. Seperti dilansir Reuters dan AFP, Sabtu (13/5/2017), pemilu ini tidak ikut digelar di Gaza.
Warga Palestina menggunakan hak suaranya di Tepi Barat Foto: REUTERS/Abed Omar Qusini |
Tanpa adanya pemilu legislatif maupun pemilihan presiden yang akan digelar dalam waktu dekat untuk warga Palestina, pemilu dewan kota ini dipandang sebagai uji popularitas bagi Otoritas Palestina yang dipimpin Presiden Abbas dan Partai Fatah yang tak akur dengan Hamas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga Palestina menggunakan hak suaranya di Tepi Barat Foto: REUTERS/Ammar Awad |
Sekitar 800 ribu warga Palestina diharapkan akan menggunakan hak suara mereka untuk memilih wakil bagi 145 kursi Dewan Lokal di Tepi Barat. Otoritas Palestina yang menguasai Tepi Barat dan Hamas yang menguasai Gaza saling menyalahkan karena pemilu tidak ikut digelar di Gaza.
"Tidak diragukan ini adalah kehidupan demokratis yang kami janjikan untuk rakyat," ujar Wakil Ketua Fatah, Mahmoud Al-Aloul.
Warga Palestina mencelupkan jari ke dalam tinta usai menggunakan hak suaranya di Tepi Barat Foto: REUTERS/Ammar Awad |
"Sangat disayangkan, kebahagiaan ini hanya berlangsung di Tepi Barat karena Hamas mencegah orang-orang untuk menjalankan haknya di Gaza," imbuhnya.
Dalam pernyataan terpisah, Hamas menyatakan Otoritas Palestina mengambil keputusan sepihak untuk menggelar pemilu sebelum kesepakatan soal kerangka kerja tercapai antara kedua pihak. "Pemilu digelar tanpa konsensus nasional. Hanya menggelarnya di Tepi Barat saja, tanpa Gaza, akan memperdalam perpecahan," sebut juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum.
(nvc/fdn)












































Warga Palestina menggunakan hak suaranya di Tepi Barat Foto: REUTERS/Abed Omar Qusini
Warga Palestina menggunakan hak suaranya di Tepi Barat Foto: REUTERS/Ammar Awad
Warga Palestina mencelupkan jari ke dalam tinta usai menggunakan hak suaranya di Tepi Barat Foto: REUTERS/Ammar Awad